Menanti Kehadiran Buah Hati dengan Mendoakan Keberkahan dan Menyiapkan Nama yang Baik

clock-floral-old-photography-pink-Favim.com-447815

Di antara petunjuk Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam dlm menyambut sang buah hati adalah mentahnik (mengunyahkan kurma hingga lembut kemudian memasukkannya ke mulut bayi) & mendo’akan keberkahan bagi sang bayi. Hal ini telah dikisahkan dlm Shohih Bukhori & Shohih Muslim, dimana Beliau mentahnik & mendoakan anak Asma’ binti Abu Bakr yang baru dilahirkan, yaitu Ibnu Zubair. Bayi tersebut diletakkan di kaki Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Lalu Beliau mengunyah kurma & menyuapkannya ke dlm mulut Ibnu Zubair. Makanan yang pertama kali masuk ke dlm badan Ibnu Zubair adalah ludah Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu beliau mendo’akan keberkahan utk Ibnu Zubair. Khitan Berkhitan adalah termasuk salah satu dari fitroh. Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Lima hal termasuk fitroh: berkhitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku & mencabut bulu ketiak.” (HR. Bukhari & Muslim).

Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan dlm Majmu’ Fatawa bahwa pendapat yang paling kuat berkenaan dgn hukum khitan adalah khitan bagi laki-laki hukumnya wajib & sunnah bagi perempuan.
Khitan ini lebih utama dilakukan ketika bayi berumur tujuh hari sebagaimana yang dilakukan Nabi pada al-Hasan & al-Husain (HR. Thobroni & Baihaqi).

Di antara faedah khitan pada waktu kecil ini yaitu aurat akan lebih terjaga, apalagi jika sudah mencapai usia dewasa. Sunnahkah Mengusap Kepala Bayi Dengan Darah Hewan Aqiqoh ? Sebagian orang ada yang mengusap kepala bayi dgn darah aqiqoh (sembelihan kambing) padahal perbuatan ini telah dilarang dlm Islam sebagaimana dijelaskan dlm sebuah hadits. Abdulloh bin Buroidah menceritakan dari ayahnya: “Pada masa jahiliyah dulu, apabila kami dikaruniai seorang anak, kami menyembelih kambing & mengusapkan darahnya ke kepalanya (sang bayi). Tetapi tatkala Islam datang, kami menyembelih kambing, mencukur (rambut) kepala (sang bayi) serta mengusapnya (kepala sang bayi) dgn minyak wangi.” (HR. Abu Daud & Al Hakim dlm Al Mustadrok. Dishohihkan oleh Al Hakim & disetujui oleh Adz Dzahabi).

Dalam hadits ini nampak bahwa yang disyari’atkan adalah mengusap kepala bayi dgn minyak wangi, bukan dgn darah aqiqoh. Adzan di Telinga Bayi ??? Sengaja sub-judul di atas diberi tanda tanya, agar para pembaca yang budiman memperhatikan hal ini baik-baik. Sebab, hampir tak ada penulis yang membahas masalah ini kecuali mengatakan bahwa mengadzani bayi adalah sunnah.
Perlu ditegaskan, bahwa mengadzani telinga bayi tak disyari’atkan karena seluruh riwayat tersebut lemah & tak dapat terangkat ke derajat hasan.

Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh ahli hadits abad ini Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah dlm Silsilah Ahadits Dho’ifah no. 321. Mewaspadai Nama-Nama Yang Dilarang Diharamkan pemberian nama dengan:

Kata “Abdu” (hamba) yang disandarkan kepada selain Alloh seperti Abdul Ka’bah (Hambanya Ka’bah) & Abdul Husain (Hambanya Husain), Abdul Muhammad & lain-lain.

Nama yang tidaklah layak disandang oleh manusia seperti Malikul Mulk (Raja Diraja).
Nama-nama yang mutlak hanya milik Alloh seperti Ar Rohman, Al Kholiq & Al Ahad.

Ada pula nama-nama yang harus dijauhi seperti:

Nama tokoh-tokoh barat yang jelas memusuhi & memerangi Islam, karena cepat atau lambat nama seperti ini akan menarik kecintaan para pendengarnya.
Nama-nama yang dibenci oleh setiap orang & tak layak disandang oleh manusia, seperti Kalb (anjing) & Hazn (sedih).

Nama-nama yang jelek seperti ini hendaklah diganti dgn nama-nama yang bagus, sebagaimana terdapat dlm sebuah riwayat bahwa Nabi mengubah nama seseorang Hazn menjadi Sahl.

Semoga kita menjadi hamba-Nya yang selalu menghidupkan ajaran Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam sampai akhir hayat kita. Amiin.

(Sebagian besar isi artikel ini disadur dari Majalah Al Furqon, Gresik)
Artikel http://www.muslimah.or.id sumber: http://www.muslimah.or.id Penulis: Abu Isma’il Muhammad Abduh Tuasikal

Jadi Begini Rasanya

wpid-IMG_20120827_155232

Pagi ini pukul 03.00 pagi.

Seperti biasa, bangun dan menyiapkan menu makanan sahur untuk saya dan suami. Heiii, saya sudah menikah *big smile*!!!!!
ya, ini postingan “pribadi” saya selepas saya menikah.
Menikah dan memiliki orang yang tepat untuk berbagi.
Pernah membayangkan bangun dari tidur dengan sebuah kejutan setiap harinya? Itu yang saya rasakan setiap hari. Selalu ada saja kejutan darinya, ada saja tingkah lucu setiap kali saya membangunkannya -karena ini memang Ramadhan pertama kami, jadi banyak sekali hal-hal baru yang saya alami-. dan yang paling bisa membuat saya tertawa adalah mengetahui sebuah fakta, betapa susanya membangunkan suami saya untuk sahur (bukan sulit karena tidak mau puasa, tapi karena dia memang senang membuat jengkel istrinya).
Memiliki suami dengan selera makan yang agak susah dan cukup milih-milih dalam hal makanan, cukup membuat saya memutar otak setiap harinya. But i love it *senyum*.
Memasak sahur tidak pernah seindah hari itu. Ramadhan ke 20, dimana suami saya bangun dan membantu saya menyiapkan makanan. Senangnya bukan main.
Rasa senangnya luar biasa, karena memang biasanya dia tidak pernah bisa bangun kalau tidak dibangunkan.
Menjalani hari-hari dengan mengurus segala keperluannya dan menantinya pulang bekerja setiap sore, adalah hal baru yang snagat indah yang saya sangat bersyukur bisa melakukannya sepenuh hati untuk dirinya.

Dan ini adalah Ramadhan kesekian yang harus saya jalani jauh dari Ibu dan Ayah.
Jauh. Bahkan teramat jauh.
Jika beberapa tahun yang lalu saya tinggal dan menetap bersama Ayah, kali ini saya tidak bisa bersama bahkan hanya dengan salah satu dari mereka.
Terpisah jarak ribuan kilometer dari Ibu cukup membuat mata saya berair. Menangis, bahkan terkadang sampai membuat saya sedikit sulit bernafas.
Tapi dengan mengingat sebuah do’a dan beberapa penggal nasehat yang diucapkan oleh ibu beberapa saat sebelum saya benar-benar melangkahkan kaki saya untuk meninggalkan beliau dengan jarak yang begitu jauh, cukup memberi efek tenang bagi saya ketika air yang mengalir dari sudut mata sudah tidak bisa terbendung lagi.
Ibu, apa ibu tahu? karena aku percaya bahwa setiap do’a yang kau panjatkan untukku akan menguatkanku, aku bisa kembali tersenyum.

Tak peduli seberapa jauh jarak memisahkan kita.
Aku percaya, Bahwa doa ibu menguatkan. Selalu. Dengan efek luar biasa menenangkan.

Dan, jadi inilah rasanya.
Jauh dari mu ibu. Dan dengan segenap hati menjalankan tugasku dari Rabb kita untuk mengabdi pada suami dan menuruti nasehatmu untuk selalu melakukan yang terbaik untuknya. Suamiku. Suami putrimu.

I’TIKAF RAMADHAN : Pengertian I’tikaf, Waktu, Panduan & Tatacara I’tikaf, Hukum I’tikaf, Keutamaan I’tikaf, Yang dibolehkan ketika I’tikaf, Yang membatalkan I’tikaf

mos

I’TIKAF RAMADHAN : Pengertian I’tikaf, Waktu, Panduan & Tatacara I’tikaf, Hukum I’tikaf, Keutamaan I’tikaf, Yang dibolehkan ketika I’tikaf, Yang membatalkan I’tikaf

I’tikaf (Itikaf, iktikaf, iqtikaf, i’tiqaf, itiqaf), berasal dari bahasa Arab akafa yang berarti menetap, mengurung diri atau terhalangi. I’tikaf dalam pengertian bahasa berarti berdiam diri yakni tetap di atas sesuatu. Sedangkan dalam pengertian syari’ah agama, I’tikaf berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadr.

Apa hukum I`tikaf bagi lelaki dan perempuan? Apakah ketika I`tikaf itu disyaratkan harus berpuasa? Apa saja yang dikerjakan orang yang beri`tikaf , dan kapan ia harus masuk mu`takaf (tempat I`tikaf )nya dan keluar darinya?

Dijawab oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah

I`tikaf hukumnya adalah sunnah bagi lelaki dan perempuan, sesuai yang ditetapkan dari nabi, bahwa beliau selalu beri`tikaf di bulan ramadhan. Kemudian I`tikaf beliau menjadi rutin pada setiap sepuluh terakhir bulan ramadhan. Bahkan beberapa isteri beliau pernah beri`tikaf bersama beliau. Kemudian setelah beliau meninggal dunia, para isteri itu senantiasa beri`tikaf dan tidak meninggalkannya sama sekali.

Sedangkan tempat I`tikaf adalah masjid-masjid yang didalamnya dilaksanakan shalat jamaah, tetapi jika dalam I`tikaf nya bakal ada shalat jum`at, maka yang lebih utama adalah mengerjakannya di masjid jami`, yang disitu dilaksanakan shalat jum`at. Tentunya jika hal ini bisa dilakukannya.

Adapun waktu I`tikaf , menurut pendapat para ulama` yang paling sahih; tidak ada batasan tertentu mengenai waktu tersebut, dan tidak pula disyaratkan harus berpuasa saat mengerjakannya, tetapi jika dibarengi dengan puasa maka itu I`tikaf itu lebih afdhal.

Dan sunnahnya, seseorang harus masuk ke mu`takafnya saat ia berniat hendak I`tikaf , lalu keluar setelah habisnya masa yang diniatkan itu, ia juga bebas menghentikan I`tikaf nya jika ia harus melakukannya. Sebab, I`tikaf hukumnya adalah sunnah, seseorang tidak wajib melakukannya kecuali dia memang bernadzar untuk mengerjakannya.

Sedangkan yang paling dianjurkan untuk mengerjakan I`tikaf adalah di sepuluh terakhir bulan ramadhan, sesuai dengan kebiasaan nabi Shallallahu `alaihi wa Sallam. Dan disunnahkan bagi seseorang yang hendak I`tikaf untuk masuk ke dalam mu`takafnya setelah shalat subuh pada hari kedua puluh satu. Lalu ia selesai dari I`tikaf nya ketika sepuluh terakhir dari ramadhan itu habis.

Tetapi, jika dia menghentikan I`tikaf sebelum habis sepuluh terakhir, maka hal itu tidak mengapa baginya, selama I`tikaf itu bukan sesuatu yang dinadzarkannya sebagaimana dijelaskan tadi. Dan lebih utama jika seseorang memilih tempat tertentu dalam masjid, sehingga ia bisa beristirahat padanya.

Seseorang yang I`tikaf , disyariatkan atasnya untuk memperbanyak dzikir, baca al-Qur`an, istighfar, berdoa, dan mengerjakan shalat pada selain waktu-waktu yang dilarang.

Seorang yang sedang I`tikaf , tidak menjadi masalah jika ia dikunjungi teman-temannya. Juga tidak masalah untuk berbincang-bincang dengan mereka, sebagaimana yang dilakukan nabi Shallallahu `alaihi wa Sallam, waktu I`tikaf beliau dikunjungi beberapa isterinya dan beliau berbincang dengan mereka.

Beliau pernah dikunjungi isterinya, Shafiyyah, saat beri`tikaf di bulan ramadhan, ketika Shafiyyah bangkit hendak pergi, beliau pun bangkit bersama Shafiyyah, mengikutinya sampai pintu masjid. Jadi semua hal ini menunjukkan bahwa hal itu tidak mengapa untuk dilakukan. Perbuatan beliau ini menunjukkan betapa sempurna ketawadhu`an dan kerendahan diri beliau, dan betapa indah riwayat hidup beliau bersama para isterinya. Semoga shalawat Allah dan salam-Nya senantiasa tercurah kepada beliau.
Bagaimana tata cara beri’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, kapan dimulai dan amalan apa yang dikerjakan selama beri’tikaf berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini al-Makassari

Beri’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sering dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mencari keutamaan sepuluh hari terakhir Ramadhan, khususnya malam mulia yang utama (lailatul-qadri). Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian para istri beliau pun melakukan i’tikaf sepeninggal beliau.” (Muttafaq ‘alaih)

I’tikaf memiliki adab-adab yang menentukan sah dan sempurnanya i’tikaf, termasuk kapan mulainya dan kapan berakhirnya, berikut amalan-amalan apa saja yang dikerjakan selama i’tikaf.

Barangsiapa berniat untuk melaksanakan sunnah ini hendaklah memulai i’tikaf dengan masuk ke masjid tempat i’tikaf sejak terbenamnya matahari di malam ke-21 Ramadhan, karena sepuluh hari terakhir Ramadhan dimulai ketika terbenam matahari di malam ke-21 Ramadhan. Jika dia menyiapkan tenda (kemah) di salah satu bagian masjid sebagai tempat menyendiri selama i’tikaf -dan ini hukumnya sunnah- hendaklah masuk ke dalam tenda (kemah itu setelah shalat shubuh. Dalilnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memulai i’tikaf di masjidnya ketika terbenam matahari di awal malam ke-21. Namun beliau baru menyendiri (masuk) di dalam tenda yang telah disiapkan untuk dirinya setelah shalat shubuh, berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkeinginan melakukan i’tikaf, beliau menunaikan shalat Fajar (shubuh), kemudian masuk ke tempat i’tikafnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Ini adalah mazhab empat imam (Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad) serta jumhur (mayoritas) ulama yang dirajihkan (dikuatkan) oleh al-Imam Ibnu ‘Utsaimin, dan inilah pendapat yang rajih.
Selama beri’tikaf hendaklah memerhatikan adab-adab berikut:

1. Tidak melakukan jima’ (senggama), berdasarkan ayat i’tikaf:

“Janganlah kalian menggauli istri-istri itu, sedangkan kalian beri’tikaf dalam masjid.” (Al-Baqarah: 187)

Hal ini hukumnya haram dan membatalkan i’tikaf, baik dilakukan di masjid maupun di luar masjid (rumah). Sebab, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkannya secara khusus pada i’tikaf, padahal pada asalnya halal di luar i’tikaf. Jima’ diharamkan dalam i’tikaf karena bertentangan dengan tujuan i’tikaf.

2. Tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan tujuan i’tikaf, seperti keluar untuk bersenggama dengan istri di rumah, keluar untuk menekuni pekerjaannya, ataupun melakukan profesinya di tempat i’tikafnya [1], keluar untuk bertransaksi jual-beli, ataupun melakukan transaksi jual-beli di masjid, dan semisalnya. Apabila hal itu dilakukan maka i’tikafnya batal, meskipun ia telah mempersyaratkan akan melakukannya saat berniat melakukan i’tikaf, karena hal-hal tersebut bertentangan dengan tujuan i’tikaf. Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Kalau memang ia butuh untuk bekerja (melakukan profesinya), jangan beri’tikaf.”

3. Tidak keluar dari tempat i’tikaf untuk urusan yang tidak bersifat harus dilakukan. Adapun keluar untuk urusan yang bersifat harus dilakukan, hal itu boleh. Urusan tersebut meliputi hal-hal yang bersifat tabiat manusiawi seperti kebutuhan buang hajat dan makan minum, atau yang bersifat aturan syariat seperti wudhu, mandi janabah, dan shalat Jum’at. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Tidak ada khilaf tentang bolehnya seseorang yang beri’tikaf keluar dari masjid untuk suatu urusan yang harus dilakukan.” Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

“Sesungguhnya jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang beri’tikaf, beliau biasanya tidak masuk rumah kecuali untuk suatu hajat (pada riwayat Muslim: untuk hajat manusiawi).” (Muttafaq ‘alaih)

Juga hadits ‘Aisyah yang mauquf (dinisbatkan kepada ‘Aisyah sebagai perbuatannya) yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya pada “Kitab al-Haidh”:

“Adalah aku (jika sedang beri’tikaf) biasa masuk rumah untuk suatu hajat, padahal di dalam rumah ada orang sakit. Aku tidak menanyakan keadaannya kecuali sambil lewat saja.” [2]

Oleh karena itu, tidak boleh keluar dari tempat i’tikaf untuk urusan ketaatan yang bersifat sunnah, seperti menjenguk orang sakit dan mengantarkan jenazah, menurut pendapat yang rajih. Ini adalah pendapat jumhur ulama dan dirajihkan oleh Ibnu ‘Utsaimin, kecuali jika jelas baginya bahwa tidak ada yang mengurusi orang sakit tersebut selain dirinya -sedangkan kondisi sakitnya telah kritis- atau jika tidak ada yang bisa mengurusi jenazah tersebut selain dirinya, hal ini diperbolehkan. Sebab, pada kondisi itu hukumnya menjadi wajib atas dirinya. Jika ia keluar untuk suatu urusan yang harus dilakukannya, maka tidak boleh berlama-lama lebih dari hajatnya itu. Jika ia berlama-lama lebih dari hajatnya tersebut, maka i’tikafnya batal sebagaimana batalnya i’tikaf jika keluar untuk urusan yang tidak bersifat wajib meskipun hanya sebentar, menurut pendapat empat imam mazhab.

4. Disunnahkan menyibukkan diri dengan berbagai macam ibadah khusus, seperti shalat sunnah mutlak di waktu-waktu yang tidak terlarang, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, serta beristighfar. Secara khusus, sepuluh malam terakhir Ramadhan dihidupkan dengan shalat tarawih. Inilah inti dan tujuan i’tikaf, untuk mengkhususkan diri dengan ibadah-ibadah tersebut. Itulah sebabnya pelaksanaan i’tikaf dibatasi harus di masjid.

5. Disunnahkan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, maupun yang lainnya.

6. Tidak mengapa baginya untuk berbicara sebatas hajat dan berbincang-bincang dengan orang lain dalam batas yang dibolehkan dalam syariat, baik secara langsung maupun melalui telepon, selama hal itu masih dalam masjid tempat beri’tikaf. Demikian pula, tidak mengapa untuk dikunjungi kerabat atau temannya di tempat i’tikafnya serta berbincang-bincang sejenak dan tidak lama. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Shafiyyah bintu Huyai radhiyallahu ‘anha, salah seorang istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim (Muttafaqun ‘Alaih) tentang kedatangannya mengunjungi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di malam hari saat beliau melakukan i’tikaf, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri bersamanya dan mengantarkannya pulang ke rumahnya. [3]

Selanjutnya, i’tikaf berakhir ketika terbenam matahari di malam ‘Id dan tidak disyariatkan menunggu esok harinya hingga menjelang shalat ‘Id. Ini merupakan pendapat jumhur (mayoritas) ulama serta Ibnu Hazm.

Catatan kaki:

[1] Seperti menjahit atau yang lainnya.

[2] Adapun periwayatan hadits ini secara marfu’ (dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) yang diriwayatkan oleh Abu Dawud merupakan riwayat yang dha’if (lemah), sebab dalam sanadnya terdapat rawi yang lemah bernama Laits bin Abi Sulaim.

[3] Adapun keluarnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari masjid untuk mengantarkan Shafiyyah radhiyallahu ‘anha, dibawa kepada pemahaman bahwa hal itu merupakan keharusan bagi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukannya, karena peristiwa itu di malam hari sehingga beliau khawatir jika membiarkannya pulang sendiri.

Sumber: Majalah Asy Syariah, no. 63/VI/1431 H/2010, hal. 74-76.

Hal-hal Yang Dibolehkan Ketika I’tikaf

Para ulama telah menyebutkan beberapa hal yang dibolehkan bagi para mu’takifin ketika itikaf, di antaranya:

1. Membuat kemah di dalam masjid yang dia gunakan untuk menyendiri di dalam beribadah.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَكُنْتُ أَضْرِبُ لَهُ خِبَاءً فَيُصَلِّي الصُّبْحَ ثُمَّ يَدْخُلُهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, dan aku membuatkan kemah untuk beliau, beliau shalat shubuh kemudian memasukinya.” [HR. Al-Bukhari]

2. Keluar dari masjid ketika ada kebutuhan, seperti keluar untuk menyediakan makanan dan minuman, keluar untuk menunaikan hajatnya, berwudhu, dan juga mandi. Dengan syarat kebutuhan-kebutuhan tadi memang tidak bisa dilakukan di dalam masjid.

3. Boleh bagi seorang mu’takif untuk bertemu dan duduk bersama istri di dalam kemahnya, demikian pula boleh untuk menyambut siapa saja yang dating mengunjunginya, dengan syarat tidak menimbulkan fitnah.

Dari ‘Ali bin Husain radhiyallahu ‘anhuma:

أَنَّ صَفِيَّةَ زَوْجَ النَّبِيِّ أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ تَزُورُهُ فِي اعْتِكَافِهِ فِي الْمَسْجِدِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَتَحَدَّثَتْ عِنْدَهُ سَاعَةً ثُمَّ قَامَتْ تَنْقَلِبُ أي تعود إلى بيتها وَقَامَ النَّبِيُّ ليَقْلِبهَا أي ليوصلها إلى بيتها

“Bahwasanya Shafiyyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhabarkan kepadanya, bahwa dia pernah datang mengunjungi Nabi ketika beliau sedang i’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, kemudian dia (Shafiyyah) berbincang-bincang dengan beliau beberapa saat, dan kemudian dia berdiri untuk kembali ke rumahnya, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengantarkan dia sampai ke rumahnya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

4. Boleh bagi seorang mu’takif untuk meminang, melakukan akad nikah, dan menjadi saksi nikah di dalam masjid. Karena i’tikaf itu adalah ibadah yang tidak mengharamkan (menghalangi dikerjakannya) kebaikan (yang lainnya), maka i’tikaf tidak mengharamkan (menghalangi) seseorang dari nikah sebagaimana puasa. Demikian pula karena nikah itu adalah bentuk ketaatan, menghadirinya adalah juga merupakan bentuk taqarrub. Dan hendaknya itu semua dilakukan dengan tidak terlalu berlama-lama yang menyebabkan tersibukkannya dari i’tikaf ……

5. Boleh bagi seorang mu’takif untuk membersihkan badannya, memakai parfum, dan memakai pakaian yang baik, boleh pula menyisir rambutnya dan juga memotong kukunya.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ يُصْغِي إِلَيَّ رَأْسَهُ وَهُوَ مُجَاوِرٌ فِي الْمَسْجِدِ فَأُرَجِّلُهُ وَأَنَا حَائِضٌ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendongokkan kepalanya kepadaku (ketika aku berada di rumahku yang) bersebelahan dengan masjid. Aku menyisir rambut beliau dalam keadaan aku sedang haid.” [HR. Al-Bukhari]

6. Boleh bagi seorang mu’takif untuk mengadakan halaqah dalam rangka mengajarkan cara membaca Al-Qur’an atau menghadiri halaqah bacaan Al-Qur’an tersebut, demikian pula dibolehkan untuk membaca kitab-kitab ilmiah dan menghadiri majelis-majelis para ulama dan diskusi mereka, atau kegiatan lain yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain.

7. Boleh bagi seorang mu’takif untuk naik ke atap (lantai paling atas) masjid karena itu masih termasuk bagian dari masjid.

Sumber : http://darussalaf.or.id/stories.php?id=1804

PENJELASAN “HUKUM ASURANSI KARYAWAN/ JAMSOSTEK” MENURUT ISLAM

ins

Bolehkah Menggunakan Asuransi yang di berikan Perusahaan?

Al Ustadz Muhammad Sholehudin Hafizhahullah

a hukum jamsostek menurut islamBismillah

afwan mau tanya,di perusahaan ana ada asuransi kesehatan untuk karyawan,tiap karyawan mendapat kartu asuransi tersebut.klo kita sakit dan mnggunakan kartu tersebut maka biaya pengobatan dapat di claim dan di ganti oleh perusahaan,prtnyaan’a boleh tidak kita gunakan asuransi tersebut?

jazaakalloh khoiron

Jawaban Al Ustadz Muhammad Sholehudin Hafizhahullah

Bismillah. Yg perlu diketahui soal asuransi adalah pembagian dan hukum dari masing²nya.
Asuransi terbagi menjadi 2:

1. Asuransi yg bersifat bantuan atau yg dikenal dgn istilah تأمين تعاوني atau تأمين تبادلي,

yaitu berkumpulnya beberapa org demi menanggulangi bencana dimana masing² memberikan atau mengumpulkan sejumlah harta yg telah disepakati besarnya baik perbulan maupun pertahun demi menangani keuangan org yg tertimpa bencana atau semisalnya dimana apabila bertambahnya anggota dan mendapatkan kelebihan dari nilai yg dikeluarkan maka masing² anggota mendapatkan hal pengembalian dari sisa penggunaan dana tsb, namun jika terjadi kekurangan dari pembiayaan sebuah claim maka masing² anggota asuransi dituntut utk dapat menutupinya terkait dgn kekurangan tsb.

Yg pada intinya tujuan mereka adalah utk membantu diantara anggota yg mengalami kesulitan finansial dan tdk ada unsur mengambil keuntungan dr perkumpulan mereka ini.
Gambarannya: pemerintah membuka biro asuransi yg bertujuan utk meng cover pembiayaan atas sebuah claim dr musibah yg dialami oleh pegawai dan para petugas negara. Dn dlm hal ini pemerintah tdk bertujuan mengambil keuntungan, sehingga asuransi ini juga terkadang diistilahkan dgn تأمين إجتماعي. Demikian halnya dgn lembaga² non profit.
2. Asuransi perniagaan atau diistilahkan dgn تأمين تجاري.

Yaitu sebuah akad yg mengharuskan bagi pihak asuransi utk memberikan sebuah claim ganti rugi atau sebuah kasus atau bencana yg dialami oleh nasabah dimana dipersyaratkan bagi nasabah utk menyetorkan sejumlah harta baik secara langsung maupaun berkala atau berjenjang sebagai penggantian dari claim suatu kejadian kpd pihak biro asuransi.

Hukumnya: dalam hal ini para ulama berbeda pendapat dari kalangan ulama kontemporer -krn masalah ini adalah permasalahan yg baru muncul di zaman ini- menjadi 2 kelompok:

1. membolehkan secara mutlak kedua jenis asuransi tsb. Dan org yg pertama kali membolehkannya wallohu a’lam- adalah syaikh Musthofa az-zarqo di dalam “Nizhom at-ta’min” hal. 27.
2. Mengharamkan bentuk asuransi niaga / تأمين تجاري dan membolehkan asuransi gotong royong / تأمين تعاوني. Dan pendapat ini adalah pendapatnya kebanyakan fuqoha zaman sekarang, dan ini yg dikuatkan oleh lajnah daimah wal ifta pada jilid 15. Dan ini yg rojih insya Alloh.

Wallohu a’lam.

Kesimpulan: boleh bagi karyawan untuk menggunakan jasa jamkestek atau semisalnya. Wallohu a’lam.

Sumber : Grup WSI

APA YANG DILAKUKAN AGAR TETAP TEGAR DAN KOKOH DI ATAS MANHAJ SALAF SHALIH

str

APA YANG DILAKUKAN AGAR TETAP TEGAR DAN KOKOH DI ATAS MANHAJ SALAF SHALIH

Fatwa asy-Syaikh Shalih al-Fauzan –hafizhahullahu Ta’ala–

Pertanyaan:

Apa kaidah-kaidah syariat yang perlu diperhatikan oleh seorang muslim agar dia tegar dan kokoh dalam menjalani manhaj salaf shalih, tidak terjatuh pada penyelewengan, serta tidak dipengaruhi oleh manhaj-manhaj susupan yang menyimpang?

Jawaban:

Kaidah-kaidah syariat tersebut bisa difahami dari kumpulan apa yang telah dibicarakan, hal ini dengan menempuh hal-hal berikut ini:

1. Setiap insan kembali kepada ahli ilmu dan bashirah. Mengambil ilmu serta bermusyawarah dengan mereka dalam menghadapi segala perkara yang bergejolak pada fikirannya sehingga dia mengambil masukan dari ide-ide mereka.

2. Pelan-pelan dalam segala hal, tidak tergesa-gesa, dan tidak lancang dalam menghukumi seseorang, bahkan wajib baginya untuk meneliti.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu.”

[Q.S. al-Hujurat: 6]

Allah juga berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kalian mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepada kalian: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kalian membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kalian dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kalian, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“

[Q.S. an-Nisa: 94]

Makna ‘tabayyanu’ adalah telitilah berita yang sampai kepada kalian.

3. Lalu jika hal itu benar, wajib bagi kalian untuk mengatasi masalah tersebut dengan langkah-langkah yang akan menghasilkan ishlah (perbaikan), bukan dengan cara-cara kekerasan dan brutal.

Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda,

بشروا ولاتنفروا

“Berilah kabar gembira dan jangan bikin lari.”

[H.R. al-Bukhari dari shahabat Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu–]

Beliau juga bersabda,

إنما يعثتم مبشرين لا منفرين

“Sesungguhnya kalian diutus hanya sebagai pemberi kabar gembira bukan membikin lari manusia.”

Beliau berkata kepada sebagian shahabatnya yang mulia,

إن منكم لمنفرين فمن أم الناس فليخفف فإن وراءه الضعيف وذا الحاجة

“Sesungguhnya di antara kalian ada yang membikin manusia lari. Barang siapa mengimami manusia, hendaklah ia meringankan (shalatnya), sesungguhnya di belakangnya ada orang yang lemah dan punya hajat.”

[H.R. al-Bukhari dari shahabat Abu Mas’ud al-Anshari –radhiyallahu ‘anhu–]

Apa pun keadaannya, segala urusan harus ditangani dengan penuh hikmah dan ekstra hati-hati. Tidak setiap orang boleh masuk pada perkara yang tidak layak baginya untuk turut campur.

4. Demikian juga, di antara ketentuan-ketentuan yang perlu diperhatikan adalah hendaklah setiap orang berbekal dengan ilmu yang bermanfaat dengan duduk di majelis ahli ilmu, mendengarkan wejangan-wejangan mereka, membaca kitab-kitab salafush shalih dan kisah perjalanan mushlihin (orang-orang yang melakukan perbaikan, pen) dari kalangan salafush shalih dan para ulama. Bagaimana mereka menyelesaikan berbagai perkara, bagaimana mereka menasehati umat manusia, bagaimana mereka memerintahkan yang makruf dan melarang yang mungkar, serta bagaimana mereka menghukumi berbagai hal problema. Semua ini dibukukan pada kitab sejarah, biografi, dan berita-berita mereka, serta kisah-kisah mereka yang telah berlalu dari kalangan ahli kebaikan, keshalihan, dan jujur.

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.”

[Q.S. Yusuf: 111]

Setiap insan merupakan satu bagian dari umat ini. Sementara umat ini merupakan himpunan kaum muslimin dari awal muncul Islam hingga tegak kiamat. Inilah adalah komunitas umat ini. Setiap muslim merujuk kisah perjalanan dan berita-berita salafush shalih, bagaimana mereka mengatasi permasalahan-permasalahan, serta bimbingan mereka dalam hal tersebut. Sehingga dia berjalan di atas jalan mereka dan tidak memandang ucapan-ucapan orang-orang yang ceroboh serta kabar orang-orang jahil yang membakar semangat manusia tanpa ilmu.

Sekian banyak buku kecil, muhadharah, dan konsep-konsep saat ini muncul dari kalangan orang-orang yang jahil ilmu syar’i. Memprovokasi dan memerintahkan manusia perkara yang tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Walaupun ini didasari oleh tujuan dan niatan yang bagus, namun yang menjadi tolak ukur bukan sekedar tujuan dan niatan. Patokannya adalah kebenaran. Kebenaran itu adalah apa yang sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah dengan faham salafush shalih. Adapun manusia, selain Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam–, terkadang benar dan terkadang salah, perkara yang benar diterima dan perkara yang salah ditinggalkan.

Sumber: Irsyad Al-Khillan ilaa Fatawa al-Fauzan, soal: 465 (1/360-361)

Diterjemahkan oleh: Abu Bakar Jombang

Thalib Darul Hadits Fiyusy

Ahad, 19 Rajab 1435 H

WSI/ http://forumsalafy.net/?p=3307

BOLEHKAH JUAL BELI UANG KERTAS

bokeh4

BOLEHKAH JUAL BELI UANG KERTAS

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan:

Apa hukum membeli uang kertas dan menjualnya kembali jika nilainya naik?

Jawaban:

Muamalah dengan menjual dan membeli mata uang disebut penukaran mata uang. Penukaran mata uang harus dilakukan dengan serah terima secara langsung di tempat transaksi. Jika terjadi serah terima langsung di tempat transaksi maka hal itu tidak masalah. Maksudnya jika seseorang misalnya menukar Riyal Saudi dengan dollar Amerika maka hal ini tidak masalah, walaupun dia mengharapkan keuntungan di masa mendatang. Hanya saja dengan syarat dia mengambil dollar yang dia beli dan menyerahkan uang Saudi yang dia jual. Adapun tanpa serah terima secara langsung di tempat maka hal tersebut tidak sah, dan hal itu termasuk riba nasi’ah.

Sumber artikel:

Fataawaa Ulama Al-Balad Al-Haram, hal. 701

Alih bahasa: Abu Almass

Senin, 4 Sya’ban 1435 H

WSI/ http://forumsalafy.net/?p=3572

BOLEHKAH PAKAIAN ANAK-ANAK YANG BERGAMBAR MAKHLUK HIDUP?

1522147_696437723755646_6839211464040910036_n

BOLEHKAH PAKAIAN ANAK-ANAK YANG BERGAMBAR MAKHLUK HIDUP

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah

Pertanyaan:

Apakah hukum gambar dan lukisan makhluk hidup yang terdapat pada pakaian anak-anak, di mana jarang ada pakaian anak-anak yang selamat dari gambar semacam itu?

Jawaban:

Tidak boleh membeli pakaian yang padanya terdapat gambar dan lukisan makhluk yang bernyawa seperti manusia atau hewan atau burung. Hal itu karena gambar makhluk bernyawa hukumnya haram dan tidak boleh menggunakannya, berdasarkan hadits-hadits shahih yang melarang hal tersebut dan mengancamnya dengan ancaman yang paling keras.

Rasulullah shallallahu alaihi was sallam telah melaknat orang-orang yang menggambar [1] dan beliau mengabarkan bahwa mereka adalah manusia yang paling keras adzabnya pada hari kiamat nanti.[2]

Jadi tidak boleh memakai pakaian yang padanya tidak gambar, dan tidak boleh memakaikannya kepada anak kecil. Dan wajib untuk membeli pakaian yang bersih dari gambar, dan alhamdulillah pakaian yang seperti itu banyak jumlahnya.

[1] Lihat: Shahih Al-Bukhary, 7/67.

[2] Lihat: Shahih Al-Bukhary, 7/64-65.

Sumber artikel:

Al-Muntaqaa min Fataawa Al-Fauzan, 3/339, pertanyaan no. 505

Alih bahasa: Abu Almass

Sabtu, 9 Sya’ban 1435 H

WSI/ http://forumsalafy.net/?p=3628