TA’ADUD DALAM ISLAM

Assalaamu ‘alaikum wR. wB.
Berikut ini salinan Risalah Ta’adud yang disusun oleh seorang ustadz.
Semoga bermanfaat.
Wassalaam.
===================
TA’ADUD DALAM ISLAM

Ta’adud atau poligami pernah menjadi polemik tiga tokoh bangsa
Indonesia. Ir. Soekarna presiden pertama RI yang menolak sama sekali
nilai poligami, tetapi pada prakteknya dia sendiri melakukan. Dr. M.
Natsir perdana menteri pertama RI yang membela habis-habisan poligami
tetapi ia sendiri secara aplikatif tidak melaksanakan. Dan KH.Idham
Khalid mantan ketua MPR yang secara diam-diam melakukan walaupun tidak
membela seperti yang dilakukan Dr.M. Natsir dan tidak menolak seperti
yang dilakukan Ir.Soekarno.

Poligami yang merupakan sub sistem pernikahan dalam Islam sampai
sekarangpun masih menjadi polemik dikalangan umat Islam. Sebagian umat
Islam khususnya muslimat yang terpengaruh dengan peradaban barat
biasanya menolak poligami, baik secara nilai apalagi aplikasinya.
Sementara sebagian umat Islam yang lain menerima poligami sebagai salah
satu ajaran Islam yang harus diimani. Bahkan merupakan solusi yang
dianjurkan untuk melaksanakannya jika mampu. Sebagian yang lain
menjadikan poligami hanya sebagai pemuas nafsu dan tidak memperhatikan
faktor kemampuan dan tanggung-jawab.

Penolakan kaum muslimah atau keluraganya terhadap poligami banyak
disebabkan oleh faktor al-Gazwu al-Fikr yang begitu deras mempengaruhi
opini umat Islam. Bahkan diantara mereka banyak yang menganggap aib jika
mendengar seseorang melakukan poligami. Sementara terhadap praktek
pelacuran, wanita simpanan dan seks bebas mereka tidak
mempermasalahkannya.

Terlepas dari itu semua tidak seyogyanya bagi kaum muslimin dan muslimat
mengingkari ayat poligami baik secara teoritis maupun aplikatif. Karena
pengingkaran pada satu ayat akan menjadikan seseorang menjadi kafir
kepada Allah swt. Tidak ada alasan sedikitpun mengingkari atau menolak
ayat ini dengan dalih apapun, termasuk dalih tradisi, kebiasaan dan
perasaan. Allah swt berfirman:

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka
menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian
mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang
kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (An-Nisaa’ 65)

Hadits Rasul saw:

“Tidak beriman seseorang diantara kalian sampai hawa nafsunya
ditundukkan untuk mengikuti apa yang datang dari Rasul saw” (Lihat
Arba’in Nawawi hadits 41)

Ungkapan maksimal yang mungkin dapat dikatakan kaum mu’min ialah, kami
mengimani ayat itu tetapi kami belum mampu melaksanakannya.
Poligami merupakan prinsip dasar pernikahan dan merupakan sunnah para
nabi dan para rasul. Jika dahulu poligami tidak dibatasi, tetapi di masa
Rasulullah saw dibatasi hanya boleh sampai empat saja. Disebutkan dalam
sebuah hadist yang diriwayatkan Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan
Malik:

Dari Salim dari bapaknya bahwa Gailan bin Salamah masuk Islam dan dia
memiliki sepuluh istri. Maka Nabi SAW berkata kepadanya:” Pilihlah
diantara mereka empat saja (sisanya dicerai)”

Dari Abu Hurairah: Dahulu nabi Sulaiman memiliki istri 90 lantas ia
berkata:”saya akan mengelilingi istriku malam ini, sehingga setiap istri
hamil, kemudian melahirkan setiap istri seorang lelaki yang akan
berperang dijalan Allah. Tetapi tidak ada yang hamil kecuali seorang
wanita. Lahir setengah manusia. Kemudian Rasulullah SAW bersabda:”
Kalau mengucapkan insya Allah, niscaya setiap istri melahirkan anak
lelaki pejuang yang berperang dijalan Allah” (HR Bukhari dan Muslim)

Allah SWT berfirman

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak)
perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah
wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian
jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang
saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih
dekat kepada tidak berbuat aniaya” (QS An-Nisaa’ 3)

Asbab Nuzul (Sebab turunnya ayat)

Dari ‘Aisyah berkata kepada keponakannya, Urwah bin Zubair tentang ayat
(surat An-Nisaa’ :3). ‘Aisyah berkata:” Wahai keponakanku ayat ini turun
pada anak perempuan yatim yang diasuh oleh walinya dan uangnya bercampur
dengan uang walinya. Dan si wali tersebut tertarik pada hartanya dan
kecantikannya, sehingga ia ingin menikahinya dengan tidak berlaku adil
pada pemberian maharnya. Ia memberi si anak yatim itu seperti ia memberi
kepada yang lainnya. Maka wali-wali yang seperti ini dilarang untuk
menikahi wanita yatim tersebut kecuali kalau mampu berlaku adil padanya
dan memberikan mahar yang tinggi. Dan memerintahkan kepada mereka untuk
menikahi wanita lain yang mereka sukai” (HR Bukhari dan Muslim)

FIQH AYAT

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak)
perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah
wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian
jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang
saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih
dekat kepada tidak berbuat aniaya” (QS An-Nisaa’ 3)

1. Ayat ini menjelaskan kepada umat Islam tentang disyariatkannya
poligami, dan poligami ini sesuai dengan syari’ah, logika dan kebutuhan
riil manusia. Dan poligami dalam Islam adalah mulia dan terpuji bagi
yang mampu melaksanakannya.

2. Poligami yang disyari’atkan dalam Islam dibatasi sampai empat istri
saja. Apa yang dilakukan Rasulullah saw, yaitu menikah lebih dari empat
istri adalah kekhususan untuk beliau dan tidak boleh diikuti umatnya.
Pendapat ini sesuai dengan ayat Al-Qur’an, Sunnah dan Ijma para ulama.
Sedangkan pendapat yang membolehkan lebih dari empat sebagaimana yang
diyakini penganut sebagian Syi’ah adalah pendapat yang tidak berdasar
dan tertolak.

3. Hukum pernikahan dasarnya adalah sunnah, sebagaimana yang dianjurkan
oleh Rasullah saw kepada umatnya. Dan ibadah yang paling awal dan
paling kekal adalah pernikahan. Pernikahan ada semenjak manusia ada dan
menikah akan tetap ada sampai manusia masuk surga. Pada akhirnya hanya
ada dua ibadah yang kekal yaitu mentauhidkan Allah dan menikah.

4. Oleh karena hukum pernikahan pada dasarnya sunnah. Maka begitu juga
terkait dengan hukum ta’adud bagi yang mampu melaksanakannya.

5. Hukum pernikahan dilihat dari obyeknya ada lima, yaitu wajib, sunnah
muakkad, mubah, makruh dan haram.

¨ Wajib bagi mereka yang mampu (secara syahwat), memiliki kesiapan
materi, dapat menjaga dari dosa dan khawatir pada dirinya jatuh pada
fitnah dan zina jika tidak menikah.
¨ Sunnah Muakkad bagi mereka yang mampu, memiliki kesiapan materi,
dapat menjaga dari dosa dan tidak khawatir pada dirinya jatuh pada
fitnah dan zina.
¨ Bagi mereka yang tidak ada kemampuan menikah, memiliki kesiapan
materi, dapat menjaga dari dosa dan tidak khawatir pada dirinya jatuh
pada fitnah dan zina. Menurut Imam Abu Hanifah dan imam Ahmad hukumnya
sunnah, sedangkan menurut imam malik dan imam As-Syafi’i hukum mubah.
¨ Makruh bagi mereka yang ingin menikah, tetapi jika menikah
dikhawatirkan melakukan dosa atau membahayakan istrinya.
¨ Haram menikah bagi mereka yang tidak mampu secara fisik (tidak
memiliki syahwat atau kelainan yang lainnya) dan tidak memiliki materi.

5. Dibolehkan mencari wanita yang cantik sesuai dengan ayat tersebut,
‘nikahliah wanita yang kamu senangi’. Thaba secara harfiyah artinya
adalah yang halal, yang enak atau menarik dan yang murah.
Bahkan menurut imam As-Suyuti dalam kitabnya Al-Iklil, dianjurkan
memilih wanita yang cantik. Dan kecantikan itu ada dua macam yaitu
cantik lahir dan batin.

6. Dilarang menikah dengan jin. Karena tujuan pernikahan tidak akan
tercapai yaitu sakinah mawaddah dan rahmah. Disebutkan dalam hadits
mursal bahwa, Rasulullah saw melarang seseorang menikahi jin.

7. Jika seseorang memiliki istri lebih dari satu maka wajib baginya
untuk berlaku adil yaitu dalam bermalam dan nafkah. Rasulullah saw
bersabda:

Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW bersabda: “Jika pada seseorang memiliki
dua istri dan tidak adil antara keduanya maka datang di hari kiamat
berjalan dan bagiannya tubuh miring” (HR At-Tirmidzi, An-nasa’i, Abu
Dawud, Ibnu Majah dan Al-Hakim).

8. Hukum yang terkait dengan budak wanita berbeda dengan hukum yang
terkait dengan wanita merdeka. Kewajiban kita terhadap budak wanita
tidak ada kewajiban untuk berbuat adil dalam nafkah dan bermalam.
Pemilik budak cuma diwajibkan untuk berbuat baik dan lembut kepadanya.
Begitu juga bagi budak wanita tidak dibatasi sampai empat. Seseorang
boleh memiliki istri empat ditambah budak yang dia miliki. Sedangkan
bagi budak lelaki jumhur ulama hanya membolehkan menikah dengan dua
wanita (setengahnya).

HIKMAH POLIGAMI

Poligami tidaklah disyari’atkan dalam Islam kecuali pasti banyak
mengandung hikmah dan kebaikan yang diberikan Allah kepada hambanya.
Para ulama menyebutkan hikmah poligami diantaranya:

1. Kenyataan membuktikan bahwa jumlah wanita lebih banyak dari jumlah
lelaki. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam hadits bahwa jumlah
penghuni surga terbanyak adalah wanita dan jumlah penghuni neraka
terbanyak juga wanita. Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Abu Hurairah:

“Maka masuklah orang (ke dalam surga), dinikahkan dengan 72 istri dan
dua istri dari anak adam”.

Dari Abu Said Al-Khudri berkata: Rasulullah SAW keluar untuk shalat
‘Idul Adha atau ‘Idul Fithri ke mushala kemudian melewati banyak wanita,
lau Rasul SAW berkata:” Wahai kaum wanita perbanyaklah sedekah karena
saya melihatmu yang paling banyak masuk neraka”. Mereka
bertanya:”Kenapa wahai Rasulullah?”. Rasululah SAW menjawab:” Banyak
melaknat dan mengingkari (kebaikan) suami” (HR Bukhari dan Muslim).

Bahkan begitu besarnya jumlah kaum wanita dibanding kaum lelaki, sampai
nanti di akhir jaman satu orang lelaki akan diikuti 50 orang wanita.
Rasulullah saw:

Dari Anas bin Malik berkata: Saya akan sampaikan pada kalian satu
hadits, yang tidak disampaikan pada seorangpun setelah aku. Saya
mendengar Rasulullah SAW bersabda:” Diantara tanda kiamat, berkurangnya
ilmu, dominannya kebodohan, meratanya perzinahan dan banyaknya wanita
serta sedikitnya lelaki sampai untuk 50 wanita cuma ada satu lelaki” (HR
Bukahri dan Muslim).

Dan untuk menyelesaikan surplusnya kaum wanita hanya ada 4 penyelesaian:
¨ Wanita diharuskan sabar tidak punya suami dan mematikan syahwatnya
dan dilarang poligami.
¨ Wanita yang tidak mendapatkan suami melakukan perzinahan.
¨ Sisa jumlah wanita dibunuh.
¨ Dibolehkan poligami.

Tentu saja penyelesaian pertama, kedua dan ketiga tidak sesuai dengan
syari’ah, akal sehat dan HAM. Sedangkan penyelesaian yang benar adalah
dibolehkannya poligami bagi mereka yang mampu.

2. Menteladani Rasulullah saw, para sahabat dan salafu shalih. Karena
sedikit sekali sahabat yang beristri satu orang begitu juga salafu
shalih.

Rasulullah saw memiliki istri 15 orang, Abu Bakar 2 orang, Umar 2 orang,
Utsman 3 orang, Ali bin Abi Thalib 4 orang dll.

Berkata Ibnu Abbas kepada Said: “Nikahlah karena sebaik-baiknya umat ini
adalah yang paling banyak istrinya” (riwayat Bukhari)

3. Diantara tujuan terpenting dari pernikahan adalah memperbanyak
keturunan. Dan poligami merealisasikan tujuan ini. Dan tujuan pernikahan
lainnya yaitu, untuk menjaga eksistensi manusia di dunia, mendapatkan
pahala bagi suami istri dari pernikahan tersebut, memunculkan jiwa
kebapakan dan keibuan, saling tolong-menolong antara suami istri,
memperbanyak saudara dan kerabat, mengingatkan kenikmatan Allah di surga
dll. Dan semua tujuan tersebut akan semakin kuat dan terealisasi dengan
poligami.

Rasulullah saw bersabda dari Ma’qil bin Yasar:

” Nikahilah wanita yang bersifat lembut dan subur karena saya ingin
memperbanyak umat denganmu” (HR An-Nasa’i dan Abu Dawud)

4. Kaum wanita memiliki tingkat kesabaran yang tinggi untuk menahan
gejolak syahwat dibanding kaum lelaki. Lebih dari itu kaum lelaki
disamping tidak memiliki kesabaran sebagaimana yang dimiliki kaum
wanita, mereka memiliki syahwat yang besar melebihi kaum wanita. Oleh
karena itulah dibolehkan poligami. Rasulullah saw bersabda:

Artinya: Dari Anas bin Malik berkata:” Rasulullah SAW menggauli istrinya
dalam satu waktu, malam dan siang dan mereka sebelas orang”. Dalam
riwayat lain sembilan orang” (HR Bukhari). Dan dalam riwayat Muslim dll
ditambahkan :”Dengan satu kali mandi” .

Artinya: Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah SAW berkata:”Berkata
Sulaiman bin Daud as saya akan kelilingi malam ini pada 100 atau 99
istri. Semuanya akan hamil seorang pejuang yang berjihad di jalan
Allah”. Berkata temannya:”Insya Allah”. Tetapi Sulaiman tidak berkata
Insya Allah. Maka tidak ada yang hamil kecuali seorang wanita” (HR
Bukhari )

Disebutkan dalam Majma’u Az-Zawaid, riwayat At-Thabrani dari Ibnu Sirin
berkata:” Dahulu ada seorang petani tidak pernah berhenti menggauli
istrinya siang dan malam”. Maka istrinya mengadu pada Anas bin Malik,
kemudian Anas memutuskan untuk keduanya dengan membatasi sampai enam
kali saja sehari semalam. Diriwayatkan juga bahwa imam Adz-Dzahabi salah
seorang alim dan qodhi setiap malam dapat mengkhatamkan Al-Qur’an tiga
kali khatam dan menggauli istrinya tiga kali juga.

5. Pada kaum wanita banyak sekali halangan yang menyebabkan tidak dapat
digauli, saat berhalangan seperti haidh, melahirkan, saat nifas dll.
Allah swt berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah
kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di
waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.
Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang
diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (Al-Baqarah
222)

6. Kaum wanita adalah penjaga rumah dan ibu rumah tangga, kebaikannya di
rumah lebih baik dari kebaikkannya diluar rumah. Rasulullah saw
bersabda:

Dari Abdillah bin Suaid Al-Anshari dari bibinya Ummu Humaid istri Abu
Humaid As-Sai’di bahwasanya ia datang menemui Nabi saw dan
berkata:”Wahai Rasulullah saw saya ingin shalat bersamamu”. Rasul saw
berkata:” Saya tahu bahwa engkau suka shalat bersamaku. Dan shalatmu di
ruangan khusus dalam rumahmu lebih baik dari ruangan dalam di rumahmu,
shalatmu di ruangan dalam di rumahmu lebih baik dari shalatmu di
ruangan luar rumahmu. Dan shalatmu di ruangan dalam di rumahmu lebih
baik dari shalatmu di masjid kaummu. Dan shalatmu di masjid kaummu lebih
baik dari shalatmu di masjidku” (HR Ahmad).

6. Lelaki yang bertanggung-jawab atas mahar dan nafkah, dan dialah yang
bertanggung-jawab atas anak-anaknya. Jika demikian maka pemimpin boleh
memiliki lebih dari satu istri. Pemimpin di rumah sama dengan pemimpin
di masyarakat.

Allah swt berfirman:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah
telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain
(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari
harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada
Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah
telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan
nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat
tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta`atimu,
maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.
Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (QS An-Nisaa’ 34)

7. Allah swt melebihkan jenis kelamin lelaki atas jenis kelamin wanita
di dunia. Kelebihan inilah yang menyebabakan lelaki boleh menikah lebih
dari satu sampai empat sedangkan wanita hanya memiliki satu suami.
Kelebihan ini disebutkan Allah swt dalam surat An-Nisaa’ ayat 34 dan
surat Al Baqarah 228:

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut
cara yang ma`ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan
kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana”.

Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: “Tidak akan berjaya selama-lamanya suatu kaum yang mengangkat
wanita / perempuan menjadi pemimpin/ kepala negara”(HR Bukhari).

Kelebihan jenis kelamin laki-laki atas jenis kelamin perempuan pada
beberapa hal:
¨ Laki-laki pemimpin rumah tangga, sedang istri ibu rumah tangga.
Lelaki pemimpin negara dan dalam Islam wanita dilarang menjadi pemimpin
negara. Begitu juga dalam shalat lelaki boleh mengimami wanita dan tidak
sebaliknya.
¨ Lelaki mempunyai fisik lebih kuat dan lebih tabah dalam mengerjakan
tanggung-jawab yang berat.
¨ Lelaki lebih sempurna akal dan agamanya, kekurangan akal wanita
dilihat pada kesaksiannya. Kesaksian dua wanita sama dengan satu pria.
Bahkan pada masalah kriminal kesaksian wanita tidak dianggap. Sedangkan
kekurangan agama pada wanita karena ada waktu-waktu tertentu dimana kaum
wanita berhalangan untuk melaksanakan ibadah, seperti shalat, puasa dll.
¨ Tidak ada kewajiban bagi wanita untuk shalat berjamaah di masjid,
shalat Jum’ah, mengantar jenazah dan berperang di jalan Allah.
¨ Lelaki boleh menikah sampai empat sedangkan wanita tidak.
¨ Bagian lelaki dalam warisan dua kali dari bagian wanita.
¨ Lelaki punya hak ashabah (mengambil sisa warisan), wanita tidak
kecuali jika disertai saudara lelakinya.
¨ Hak cerai di tangan lelaki demikian juga inisiatif nikah dan rujuk.
¨ Wanita jika bebergian jauh harus dengan mahramnya.

Kelebihan jenis kelamin lelaki atas jenis kelamin wanita ini sangat
kokoh sesuai dalil Al-Qur-an, Hadits, akal dan fitrah yang sehat,
sehingga tidak dapat dirubah oleh siapapaun sekalipun dipaksakan oleh
negara super power dan didukung dengan dana yang sangat besar. Walaupun
begitu kelebihan ini adalah kelebihan jenis kelamin lelaki atas jenis
kelamin wanita bukan kelebihan semua lelaki atas semua wanita.

8. Salah satu hikmah poligami yaitu agar umat Islam memiliki nilai beda
dengan Yahudi dan Nashrani. Dan Rasulullah SAW memerintahkan kita tidak
menyerupai orang kafir dalam segala hal, beliau bersabda:

Dari Ibnu Umar ra berkata: Rasulullah SAW bersabda:” Saya diutus
menjelang kiamat dengan pedang sampai Allah saja yang disembah tiada
sekutu baginya, dan diberikan rizki padaku dibawah kilatan pedang. Dan
dijadikan hina dan kecil terhadap orang yang menyimpang dari ajaranku.
Dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan
mereka” (HR Ahmad)
9. Memperbanyak generasi penerus, saudara, meningkatkan ukhuwah dan
tolong menolong serta merupakan salah satu sarana da’wah yang terbaik.
Sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW, para sahabat dan generasi salafu
saleh terdahulu.

Rasulullah SAW memiliki 15 istri, dan imam Ghazali mengatakan:” Sangat
sedikit dari para sahabat yang hanya memiliki satu istri. Banyak
diantara mereka yang punya istri dua, tiga dan empat. Jumlah mereka
tidak terhitung. Memiliki istri banyak bukanlah suatu kehinaan bahkan
suatu kesempurnaan. Ali bin Abi Thalib adalah sahabat Rasul saw yang
paling zuhud tetapi ketika meninggal beliau meninggalkan 21 wanita, 4
orang istri merdeka dan 17 budak wanita.
Dan dalam hidup ini banyak terjadi musibah, bencana alam, perang dll.
Dan yang paling banyak menjadi korban adalah kaum lelaki. Jika demikian
maka poligami adalah sarana yang paling baik dan efektif untuk menolong
saudara-sauadara kita dari kaum muslimah yang ditinggal suaminya.

10. Mengingatkan umat Islam akan keindahan hidup di surga sebagai akhir
persinggahan mereka dan sebagai gambaran miniatur di surga. Karena yang
ada di surga adalah poligami. Rasulullah saw bersabda:

Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda:” kelompok pertama
yang masuk surga, gambaran mereka seperti bulan purnama. Tidak meludah,
buang air, dan buang kotoran. Peralatan mereka menggunakan emas, sisir
mereka menggunakan emas dan perak. Alat pembakarnya pakai kayu yang
sangat wangi, keringat mereka wangi. Setiap orang diantara mereka
mendapat dua istri. Terlihat tulang betisnya dari daging, karena
indahnya. Tidak ada perselisihan dan permusuhan diantara mereka. Hati
mereka satu bertasbih kepada Allah setiap pagi dan sore”(HR Bukhari dan
Muslim).

Para ulama mengatakan bahwa di surga minimal seseorang dinikahkan dengan
dua istri. Sehingga disana yang ada hanyalah poligami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s