Mengenangmu Dalam Hujan . . .

Mendung datang menjelang
gemuruh angin kian keras menerjang
hujan pun tak lama lagi akan datang              
 
Aku memang berharap akan adanya hujan yang turun, hujan bagiku mewakili semua perasaanku yang ku rasakan saat ini. Hujan adalah air yang mengalir mengikuti jejak alam, apapun penghalangnya, dia akan terus mengalir sampai dia menemukan tempat yang tenang.
 
Itulah dirimu, wanita dengan penuh kelembutan yang pernah ku kenal, namun kau adalah bidak yang kuat ketika dalam kesedihan, tak pernah ada kata mengeluh yang ku dengar dari bibir dan lidahmu, kau selalu menunjukan keceriaan, tak pernah sedikitpun kau tampak’kan aura kesedihan, dan begitulah aku mengenangmu saat ini.                                                                                              

Hujan yang ku tunggu pun telah tiba, namun perasaanku kian tak menentu jadinya, di balik hujan memang ada kebahagiaan tersendiri yang aku rasakan, namun sesungguhnya ada pula kesedihan yang pernah ku kenang di balik gemricik suara indah rintik hujan.
 
Kau temui aku saat itu, dengan wajah sedikit pucat dan tubuh yang menggigil, kau bertanya padaku. ”Apa kamu ingin seperti hujan?.” Aku bingung dan bertanya balik kepadanya, “memangnya kenapa?” Dengan suara yang sedikit terbata karena menahan dingin dia berkata, “Ketika hujan di hempaskan ke bumi dari langit, dia akan mencari tempatnya, dan tak akan pernah berhenti mengalir sampai dia menemukan tempat yang tenang, yang membuatnya tak bisa lagi mengalir.”
 
Mendengar perkataan itu aku terdiam dengan penuh tanya di hatiku. Belum sempat menemukan jawaban apa yang dia tanyakan, dia berkata. “Aku ingin seperti hujan, ketika aku sedang berada dalam kebahagiaan, dan kebahagiaan itu tiba-tiba hilang, aku siap mengalir, mencoba mengembalikan lagi kebahagiaan yang hilang dan berusaha mengantikannya dengan yang lebih baik. Itulah hujan, ketika ia sedang dalam kebahagiaan di atas, ia di hempaskan ke bumi, ia pun akan mengalir mencari tempat yang tenang dan memungkin untuk kembali lagi ke atas.”.
 
Kata-kata indah itu yang akan selalu ku ingat, kata-kata mulia itu yang akan selalu ku dengar di setiap menjelang tidurku, kebahagiaan itu yang selalu ku ingat ketika hujan datang.
 
Kata-kata indah itu adalah uraian terakhir yang ku dengar darimu, dan hujan itu adalah hujan terakhir yang pernah ku lewati bersamamu, di iringi dengan suara rintik hujan kau membasuh jiwaku, di bawah tetesan air hujan kau memberiku satu lagi keindahan hidup.
 
Kau kini telah tiada, meninggalkan banayak hal indah yang bermakna bagiku, hujan kembali jadi saksi yang bisu, saksi ketika aku memanjatkan do’a untukmu, saksi ketika aku mengenangmu, saksi ketika aku merindukanmu.
Hujan, banyak keindahan, tak sedikit kepedihan
Hujan, memulai cerita, berakhir cerita
Hujan, mengenang dan merindukan
Hujan, kau dan aku mengakhiri drama kehidupan dunia kita yang tak indah, juga tak pedih
 
Kini aku ingin seperti hujan, yang akan mengalir, walaupun kelak aku tak akan berhenti di ketenangan kelopak bunga mawar, namun aku akan berusaha mengembalikan lagi keindahan yang pernah hilang bersamamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s