Sebuah Perjalanan Waktu , , ,

Bismillah , ,

Seperti apakah rasanya menderita kanker otak? seperti apakah rasanya mimisan dan merasa pusing setiap waktu? bahkan pingsan di saat-saat yang tidak tentu?
Dulu, pertanyaan-pertanyaan inilah yang selalu ada di benakku. Hingga akhirnya kini pertanyaan-pertanyaan itu menjadi akrab denganku ^_^. Ya, kami akrab sekarang.
Aku ingin berbagi, karena itu ku tulis artikel ini.
Awalnya, sulit menerima kenyataan yang ada. Bahkan ketika menulis artikel inipun, aku sering berhenti dan menarik nafas panjang, berulang kali aku menarik nafas panjang.
Sudah hampir satu tahun ini aku cukup akrab dengan kanker otak, mulai dari mengenal orang-orang yang mengidapnya, dan sering mendatangi dan mengunjungi mereka di rumah sakit.
Kami kenal, kami akrab, kami dekat, dan kami berjuang bersama.
Disini saya juga ingin membagi sedikit info, mengapa kebanyakan penderita kanker otak datang terlambat untuk berobat :

•Pada stadium dini sering tidak disadari oleh penderita bahwa ia sedang menderita penyakit kanker. Karena gejala pada stadium dini sering tidak khas dan tidak menakutkan.

•Kalau penyakit kanker sudah mulai menyebar ke kelenjar getah bening yang menyebabkan timbulnya benjolan, masih juga kurang mendapat perhatian, atau kadang-kadang berpendapat bahwa hal itu “dibuat” (disantet) oleh orang yang bermaksud jahat terhadap penderita.

•Bila penderita mengerti bahwa penyakit itu bukan penyakit biasa, seringkali penderita takut memeriksakan diri karena takut dioperasi.

•Yang juga sering terjadi, penderita sadar bahwa penyakit itu bukan penyakit biasa, dan tidak takut meskipun ada kemungkinan dioperasi, tetapi biaya untuk berobat sering menjadi kendala. Untunglah sekarang sudah ada program “maskin” yang sangat membantu penderita yang kurang beruntung (tidak mampu).

” saya baru menyadari saya terkena kanker dan sering mimisan ditahun 2010, dalam sekali mimisan bisa menghabiskan tissue hampir 1 box ”
Begitu kata salah seorang teman yang saya temui.
Dan bagi kami, jika rasa sakit itu datang dan darah mimisanpun sudah keluar, kami harus segera ke klinik terdekat, karena kami harus berjaga-jaga jika kami membutuhkan transfusi darah.

Pernah di satu hari saya berbincang dengan seorang teman yang lain, dari banyaknya pembicaraan kami, ada beberapa kalimatnya yang sangat melekat pada memori otak saya, terus terngiang di telinga saya, seolah ada pendamping setia disaming saya yang selalu memmbisikkan kata-kata itu,
“Jika sudah parah, obat-obatan yang diminum sebagian besar hanya merupakan obat penghilang rasa sakit,”
inilah kata-kata ajaibnya
Kata-kata ini terasa begitu menghantam batin saya. Ya Allah , , ,

“ma’af ya kak,sebentar dulu,saya mimisan lagi”

kata-kata ini menjadi begitu sangat akrab dengan saya. Mengajarkan saya untuk kuat dan bertahan. Penderitaan penderita kanker otak stadium akhir (empat) sungguh tidak mampu saya bayangkan bagaimana rasanya.
Kemarin bahkan tanpa saya sadari saya mendapatkan sebuah “tamparan keras”.
saya seperti mengabaikan kata-kata dokter, “penderita kanker otak tidak boleh terlalu terpukul dan berpikir terlalu keras, dampaknya bisa hidung berdarah atau muntah darah. Dalam sehari penderita kanker otak stadium akhir bisa muntah darah atau hidungnya berdarah sebanyak 9 kali”

Makin lanjut stadiumnya akan memberikan penderitaan yang makin berat. Kadang-kadang penderitaan itu tidak tertahankan oleh penderita. Karena beratnya penderitaan yang dideritanya, ia nekad mencoba bunuh diri. Mengapa tidak kita tingkatkan upaya dengan terus mempergunakan berbagai cara untuk dapat menyembuhkan? Bila sembuh penyakitnya tentu penderitaannya juga akan hilang bukan ? Namun ternyata kalau kanker itu sudah menyebar ke berbagai bagian tubuh atau ke berbagai organ tubuh kita, sebagaimana dikatakan tadi tidak mungkin lagi disembuhkan. Kalau kita terus mengupayakan dengan berbagai cara pengobatan dengan harapan dapat sembuh, yang kita dapatkan ialah bertambahnya penderitaan. Karena upaya kita akan menyebabkan penderitaan datang dari dua sumber:

· Sumber pertama dari penyakitnya sendiri yang memang tidak mungkin disembuhkan dan akan tetap memberikan penderitaan.

· Sumber kedua akibat dari upaya kita. Pengobatan kanker dengan cara apa pun selalu memberikan efek samping yang menyebabkan penderita tidak nyaman. Pembedahan dan pasca bedah tentu akan menyebabkan nyeri . Efek samping kemoterapi dan radioterapi juga akan membuat penderita tidak nyaman, antara lain mual, muntah , dan sebagainya

Dalam setiap pembicaraan saya dengan teman-teman penderita, yang mana kami sering bercanda dan menyebut diri sendiri “calon mayat” ^_^
Tanpa terasa, air mataku sering sekali mengalir jika sedang berbagi dengan mereka, aku sering sekali menangis saat berbicara
“Kita tidak boleh menangis kecuali menangis karena ingat dosa-dosa yang tlh kita perbuat. Saya percaya kematian itu datangnya dari Allah SWT, “ kata salah seorang teman.

Banyak hal yang saya pelajari tentang belajar keikhlasan dalam menghadapi takdir dari seseorang yang dengan tabah mempersiapkan diri menghadapi kematian. Namun satu hal catatan penting dari tulisan saya, perhatian dan kehadiran seseorang yang disayangi adalah sebuah kondisi yang sangat diperlukan bagi seorang penderita.

Dari kalian aku belajar,
terima kasih.

One thought on “Sebuah Perjalanan Waktu , , ,

  1. haris rifai says:

    iyaaa, itu seperti apa yang saya rasakan sekarang, pcar saya menderita pnyakit tersebut, dan apa yang anda share diatas sama persis dengan apa yang saya alami dan rasakan sekarang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s