Di Suatu Hari yang Kami Sebut Minggu

Ini minggu pertama di bulan Desember *sepertinya begitu, karena di minggu inilah untuk pertama kalinya saya bisa beristirahat, heheheh.
Hari minngu ini sebenarnya sama dengan minggu-minggu sebelumnya, minggu ynag saya habiskan di rumah *karena memang saya jarang keluar rumah.
Hari ini cuaca Jakarta agaknya cukup mendung, dan hujan untuk beberapa saat. Akhirnya bisa menikmati hujan dirumah, sendirian.
Setelah mengerjakan tugas rumah tangga *hihihihi, saya memutuskan untuk duduk di dekat jendela dan melihat hujan *oia, ini tempat favorit saya dirumah. Dari tempat ini saya bisa melihatn dengan jelas rumput di halaman rumah, bintang di malam hari *kalau ada ya, karena di Jakarta jarang terlihat bintang dan,,,,
Seperti saat ini, saya bisa melihat hujan. Jelas. Suaranya gemericiknya, bahkan dinginnya pun terasa.Melihat hujan ditemani secangkir the, ditemani cipu juga, dan ditemani sebuah buku diary kecil juga pensil.
Hari ini saya mulai menyusun beberapa agenda yang saya persiapkan untuk persiapan “keluarnya saya” dari kota Jakarta ^^. Di mulai dari menyusun rencana hari kepindahan, memikirkan box-box untuk tempat beberapa barang-barang saya, dan juga memikirkan bagaimana saya nanti disana.
Hmmm,, rasanya agak sedikit sedih meninggalkan kota ini, meskipun dengan segala macam gerutuan di pagi dan siang hari saya jika terjebak macet atau terkena polusi-polusi kota ini, kota ini tetap mempunyai kenangan tersendiri bagi saya.
But,, life must go on ^^.
Semua ini juga terasa menyenangkan, dimana saya harus mengepak sendiri barang-barang saya, memilah-milah barang-barang mana saja yang bisa ditempatkan dalam satu box dan juga membuat barang-barang kaca saya aman ^^.
Senang.
Cukup dengan sedikit tenaga dan energi yang saya punya, dibantu dengan tenaga super ayah saya yang dengan cekatan membantu saya memindahkan box yang sudah terisi penuh, pekerjaan mengepak barang ini jadi terasa menyenagkan. Meskipun masih bisa saya lihat denga jelas wajah ayah saya yang belum sepenuhnya yakin dengan keputusan saya untuk beranjak dari kota ini.
Hhh, ayah saya yang sangat mengkhawatirkan saya.
Oia, hujan sudah agak reda saat ayah yang pulang dari membeli bubur kacang hijau untuksaya membawa “orang asing” kerumah kami ^^ (bertemu dijalan katanya). Dia teman masa kecil saya. Hari libur membuat langkahnya menuju ke rumah saya, itu katanya.
Hahahah, ini semacam alasan klasik saja, karena meskipun bukan di hari libur, dia sering kerumah saya, dengan jarak yang tidak dekat dengan tempatnya kuliah di depok sana.
Dan sekali lagi, meskipun dia datang tanpa pernah bisa bertemu saya ^^.
Melihat saya duduk dilantai sambil mengepak barang, satu pertanyaan yang langsung keluar dari dia,
“kamu mau ninggalin aku lagi??”
“cukup duduk diam dan Bantu ngepak aja” simple, tapi dia sudah tau bagaimana saya, jika dalam keadaan begini, saya tidak teralu suka bicara.
Proses mengepak barang kami lakukan dalam diam sambil mendengarkan kajian online yang disimpan di laptopnya. Dia tau apa yang saya suka.
Oia, ini sudah hari terakhir proses kepindahan saya, kegiatan mengepak barangpun sepertinya sudah cukup dihari ini.
Agak siang sampai semua benar-benar selesai dan hujan berhenti.
Lelah setelah mengepak barang rasanya sedikit terbayar dengan ice cream yang ayah belikan untuk kami makan bersama ^^.
Umm,, how delicious ice.

my ice

Oia, saat mengepak barang saya, saya menemukan lagi jam tangan saya yang sudah 3 hari hilang ^^, bukan hilang 100% sebenarnya, hanya tersembunyi di bawah meja diruang tamu* saya sendiri lupa bagaimana jam ini bisa sampai disitu.
Mungkin ini hari keberuntungan saya, *^^.

Mine me

Hujan turun lagi, beberapa saat setelah ayah dan dia keluar untuk menuju kota Depok.
Dan saya sendiri,
Entah mengapa saat itu saya merasa sangat sepi. Teramat sepi dibandingkan sebelum-sebelumnya. Terbayang sudah sedikit gambaran sendirinya saya nanti disana.
Hujan semakin deras.
Dan sore ini, semua diakhiri dengan menyimpan beberapa barang yang seharusnya tidak lagi saya bawa dengan diri saya.
Sengaja saya menyimpan dan merapikan beberapa benda ini saat saya sendirian, saat tidak ada orang, bahkan ayah saya dirumah.
*terkadang, ada bagian dari diri dan kenangan kita yang kita tak ingin orang lain tau.
Lagipula saya merasa sangat nyaman jika sedang bersama benda-benda ini saat saya sedang sendirian.
Dengan sebuah kotak kayu klasik berukuran sedang yang paling saya sukai.
Kembali saya buka kotak itu terakhir kalinya sebelum saya benar-benar menyimpannya.
Hanya bisa saya pandangi sebentar.
Memegangnya untuk terakhir kali.
Menyimpannya dalam laci kecil di sebuah meja disudut kamar. Lalu menguncinya.
“terima kasih. Semoga tetap baik-baik saja”

* ini hari minggu yang sama. Dengan hitungan waktu yang sama pula. Ditempat yang sama.
Saya merasa ada sedikit yang berbeda. Meskipun saya sendiri tak tau itu apa.

Dan terakhir, untuk kota kecil temapt saya berdiam nantinya,
“Will you welcome me well, Lembang?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s