Ibu

Ada 13 notifikasi di ponsel saya saat saya mengeluarkannya dari tas saya *akhir-akhir ini saya memang lebih suka “menyembunyikan” ponsel dari pandangan* setelah saya selesai merapikan beberapa dokumen yang berserakan di meja kerja saya dan mematikan netbook saya.

13 missed call, dari 2 nomer berbeda, tapi oleh orang yang sama:

Ibu.

 

My bad. Saya membiarkan ponsel saya dalam keadaan “silent” dan saya tidak mengeceknya dalam beberapa jam. Dan parahnya lagi, ponsel saya yang lain mati karena baterainya super habis. Hate it.

Ibu saya bilang, awalnya beliau hanya ingin menyapa saya karena rindu, dan karena paginya saya lupa untuk menelpon ibu sebelum berangkat kerja. Tapi karena saya tidak juga mengangkat telponnya, ibu mulai khawatir, beliau mengira telah terjadi sesuatu dengan saya, entah saya sakit atau hal buruk lainnya menimpa saya. Sampai pada akhirnya ibu saya memutuskan untuk menuliskan sebuah pesan singkat,

“Mba, dimana? Ibu disini duduk dikamar mba yang dulu, nangis pegang bonekanya Mba”

 

Disinilah saya baru menyadari sesuatu, saya lupa menelpon ibu hari ini, karena setiap paginya biasanya saya selalu menelponnya. Ibu menunggu telpon dari saya. Itulah yang ia butuhkan. Itulah yang membuatnya senang.

 

*I should have known that the older my parents, the more anxious they are. The more they are afraid to lose me.

I’m fine, mom. I promise I will. Don’t worry to much, please. I love you.

2 thoughts on “Ibu

  1. andrayani,yunia says:

    i love this story..,so much ^^

  2. Jazakallahu Khairan Katsiran Wa Jazakallahu Ahsanal Jaza, Umm.
    ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s