Lidah Tak Bertulang : Beberapa Kekeliruan dalam Etika Berbicara…

images (25)

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd -hafizhahullah-

** TIDAK MENYADARI AKIBAT DI BELAKANG SUATU UCAPAN **

Ada orang yang mengumbar kata-kata tanpa melihat atau memperdulikan akibat dan pengaruhnya. Anda dapati orang tersebut berkata apa saja tanpa peduli akan bencana atau kesulitan yang diakibatkan oleh kata-katanya itu. Padahal bisa jadi, perkataannya itu justru menyebabkan dirinya mati terbunuh, menyulut api permusuhan, atau mengobarkan peperangan dan lain sebagainya.

Aktsam bin Shaifi rahimahullah berkata:
“Orang bisa terbunuh akibat sesuatu di antara kedua rahangnya” (1)
Yakni lidahnya (Pepatah: Mulutmu harimaumu -red)

Dan berkata Al-Muhallab rahimahullah kepada anak-anaknya: “Berhati-hatilah kalian dari tergelincirnya lidah. Karena aku melihat seseorang tergelincir kakinya, ia dapat berdiri. Akan tetapi orang yang tergelincir lidahnya, dia menjadi binasa” (2)

Dalam sebuah syair dikatakan:

Orang bisa terkena musibah akibat terpeleset lidahnya
ia tidak akan mendapat petaka hanya karena tergelincir kaki
Terpeleset lidah bisa membuat orang hilang kepala
Tergelincir kaki perlahan akan sembuh kembali (3)

Ada sebuah pepatah Arab mengatakan: “Jangan sampai lidahmu memotong lehermu.”
Maksudnya, jangan sampai anda mengucapkan sesuatu yang bisa membuat anda celaka. (4)

Ali radhiyallahu anh berkata: “Lidah adalah timbangan yang akan rusak oleh kebodohan dan akan baik dengan Ilmu.“(5)

Sebagian Ahli Hikmah berkata: ” Hendaklah anda senantiasa diam (tidak bicara tentang hal yang tidak perlu, red). Karena sesungguhnya diam itu akan membuat anda dicintai orang lain, terhindar dari akibat buruk, nampak berwibawa, an tidak sampai harus meminta maaf kepada orang lain.” (6)

Sebagian lainnya lagi berkata: “Ikatlah lidahmu kecuali untuk menjelaskan kebenaran, membantah kebatilan atau menyebutkan nikmat” (7)

Berkata pula Tharafah bin al-abdi rahimahullah:
Kalau lidah tak dijaga dengan akal pikiran
Ia hanya akan membuka aurat pemiliknya (8)

Sang penyair mengatakan
“bahwa jika saja lidah tak disertai akal pikiran yang mencegahnya dari membicarakan hal-hal yang tidak disukai, maka ia akan menunjukkan keburukannya sendiri dengan ucapan tidak baik yang ia lontarkan.” (9)

Penyair lainnya juga berkata:
Kulihat lidah yang dikendalikan kebodohan
Laksana singa yang menerkam pemiliknya (10)

‘Amr bin Ash radhiyallahu anha mengatakan: “Kalau kaki tergelincir, tulangnya masih dapat diperbaiki. Akan tetapi kalau lidahnya yang tergelincir, semuanya akan binasa.” (11)

Bahkan kadangkala seseorang mengucapkan sesuatu yang begitu remeh dalam pandangannya tetapi kemudian ucapannya itu menyebabkannya terjatuh ke dalam Neraka Jahannam. Dari abu Hurairah radhiyallahu anha, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ” Sesungguhnya seorang hamba mengatakan suatu ucapan yang diridhoi Allah dan nampak remeh bagi si pengucapnya, namun kemudian ucapannya itu ditinggikan oleh Allah . Dan sesungguhnya seorang hamba mengatakan suatu ucapan yang menyebabkan kemurkaan Allah, sedangkan ucapan itu nampak remah bagi si pengucapnya, namun kemudian ia menyebabkan orang tersebut terjatuh ke dalam Neraka Jahannam,” (12)

Bahkan kadangkala seseorang mengucapkan sesuatu yang begitu remeh dalam pandangannya tetapi kemudian ucapannya itu menyebabkannya terjatuh ke dalam Neraka Jahannam.

Dari abu Hurairah radhiyallahu anha, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
” Sesungguhnya seorang hamba mengatakan suatu ucapan yang diridhoi Allah dan nampak remeh bagi si pengucapnya, namun kemudian ucapannya itu ditinggikan oleh Allah . Dan sesungguhnya seorang hamba mengatakan suatu ucapan yang menyebabkan kemurkaan Allah, sedangkan ucapan itu nampak remah bagi si pengucapnya, namun kemudian ia menyebabkan orang tersebut terjatuh ke dalam Neraka Jahannam,” (12)

Oleh karena itu seseorang yang berakal harus menahan lidahnya, menimbang-nimbang perkataannya, sehingga tidak terjatuh pada sesuatau yang berakibat buruk, dan menyesal ketika nasi telah menjadi bubur.

Berkata Ibnul Muqaffa’ rahimahullah:
“Ketahuilah bahwasanya lidah adalah alat terhunus (seperti pedang). Akal, amarah dan nafsu anda saling bertarung dengannya. Siapa saja yang berhasil mengalahkannya, akan dapat memanfaatkan dan menggunakan sekehendak hati. Jika ia dapat dikalahkan oleh akal, maka ia adalah milik anda. Akan tetapi jika ia dikalahkan oleh hal-hal seperti yang saya telah sebutkan tadi (amarah dan nafsu, red) maka ia adalah milik musuh anda. Jika anda dapat menjaga dan memeliharanya, sehingga ia hanya akan menjadi milik anda, dan musuh anda tidak dapat menguasai atau ikut memilikinya bersama anda, maka lakukanlah!” (13)

Al Mawardi rahimahullah mengatakan: “Ketahuilah bahwa berbicara itu memiliki syarat-syarat. Seorang pembicara tidak akan selamat dari ketergelinciran lidah, dan tidak akan lepas dari kekurangan kecuali dengan memenuhi syarat-syarat tersebut. Syarat-syarat itu ada 4:
1. Didasari oleh suatu keperluan. Baik untuk mendapatkan suatu manfaat ataupun untuk mencegah mudharat,
2. Disampaikan pada tempat dan waktu yang tepat,
3. Diringkas sesuai yang diperlukan,
4. Dipilihkan kata-kata yng baik dan benar.” (14)
Kemudian ia menjelaskan syarat-syarat tersebut dengan penjelasan yang sangat indah

Az-Zamakhsyari rahimahullah berkata: “Lisan yang paling baik adalah yang disimpan. Dan perkataan yang paling baik adalah yang ditimbang, kalau berbicara hendaklah berbicara dengan sesuatu yang lebih baik daripada diam. Dan hiasilah perkataan anda dengan kewibawaan dan pembawaan yang baik. Sesungguhnya perkataan yang serampangan itu menggambarkan rendahnya akal seseorang. Dan kesantunan itu tidak akan menyertai sesuatu, melainkan akan membuatnya menjadi indah. Dan tidak ada yang membuat seorang pembicara tampak indah kecuali dengan kesungguhan.” (15)

** KURANG MEMPERDULIKAN PERASAAN ORANG LAIN **

Ada orang yang berwatak keras, berjiwa kasar dan bermuka tebal. Ia sama sekali tidak memiliki rasa malu dan tidak memelihara harga dirinya, tidak memperhatikan perasaan orang lain dan tidak segan memperlakukan orang lain dengan apa yang mereka benci.

Jika ia hadir disuatu majlis dan langsung berbicara, anda sampai mengelus dada karena khawatir ia tidak akan bisa menjaga ucapannya, atau bersikap keterlaluan terhadap salah seorang yang hadir. Dan jika ia tidak mendapat kesempatan untuk melampiaskan keinginannya yang kurang pertimbangan dan sembrono, maka ia akan pergi tak tentu arah dengan terus berteriak mencaci maki penuh amarah. Sesekali ia menyebutkan kejelekan orang yang hadir, sesekali ia menyakiti mereka dengan lidahnya dan sesekali ia menyebutkan kepada mereka hal-hal yang tidak sedap untuk diingat.

Seorang laki-laki dari Bani Murrah terus bercerita kepada Malik bin Asna’ radhiyallahu anh di suatu musim panas, sampai membuat Malik kesal dan payah. Kemudian orang itu berkata: “Apakah kamu tahu siapakah diantara kalian yang membunuh kami di masa jahiliyyah dulu?”
Malik bin Asma’ radhiyallahu anh menjawab: “Aku tidak tahu, tetapi aku tahu siapa diantara kami yang kalian bunuh sesudah Islam datang.”
Orang itu bertanya: “Siapa dia?”
Malik menjawab: “Akulah yang kamu bunuh pada hari ini dengan obrolanmu yang panjang lebar dan keingintahuanmu yang berlebihan.” (16)

Ibnul Qayyum rahimahullah berkata: “Ada orang yang ketika kita berinteraksi dengan mereka, jiwa kita justru menjadi panas. Orang itu tidak enak dijadikan teman bergaul, akhlaknya bebal, tidak bisa tidak membicarakan hal yang baik sehingga kita bisa mengambil manfaat darinya, juga tidak bisa menjadi pendengar yang baik agar ia bisa mengambil manfaat dari kita. Iapun tidak tahu diri sehingga tidak dapat menempatkan dirinya secara wajar.

Bahkan jika ia berbicara, maka ucapannya seperti tongkat yang dipukulkan kepada orang-orang yang mendengarkannya. Sedangkan dia sendiri merasa bangga dan senang dengan yang ia ucapkan. Setiapkali berbicara, ia hanya menggunakan mulutnya (tanpa menimbang dengan pikiran matang, red) dan ia menyangka ucapannya itu seperti minyak wangi misik yang membuat suasana majelis menjadi harum. Jika ia harus diam, dia merasakan itu lebih berat dari setengah alat giling besar yang tidak akan kuat diangkut ataupun diseret.

Dikisahkan mengenai Imam Syafi’i rahimahullah, bahwa beliau berkata:
“Setiap kali ada orang yang tidak mengenakkan duduk bersamaku pasti aku merasakan bagian tubuhku yang searah dengannya lebih tertekan kebawah daripada bagian tubuhku yang lain. Dan suatu hari aku melihat seorang laki-laki semacam ini sedang bersama Syaikh kami (17) -semoga Allah mensucikan ruhnya-, dan Syaikh tetap meladeni orang tersebut padahal kekuatan beliau sudah begitu lemah untuk tetap meladeninya. Maka beliaupun menoleh kepadaku dan berkata: “Berinteraksi dengan orang yang tidak mengenakkan itu membuat jiwa seseorang terasa panas.”
Kemudian beliau berkata: “Tetapi jiwa kita ini sudah sering terasa panas, sampai-sampai panas itu sudah menjadi hal yang biasa.” Atau seperti yang beliau katakan.” (18)

Oleh karena itu, orang mulia yang memiliki tata krama tinggi dan etika adalah yang selalu memperhatikan perasaan orang lain (mempunyai sikap tenggang rasa). Tidak menyakiti mereka dengan 1 ucapanpun, serta tidak melukai perasaan orang lain dengan gerak-gerik tubuh atau semacamnya. Akan tetapi ia menjaga kehormatan fan air muka mereka.
Dan perlakukanlah orang lain dengan akhlak yang baik.

“Janganlah engkau berlaku seperti anjing terhadap orang lain, sebab mereka akan lari” (19)

Sebagian orang ada yang berkata: “Aku bersahabat dengan Rabi’ bin Khaitsam selama 20 tahun. Dan selama itu pula aku tidak pernah mendengarkan ucapan buruk darinya.” (20)
( sumber dinukil dari Akhtha’ Fi Adabil muhadatsah)

ket:

1. Al-Mahasin Wal Masawi’, karangan Ibrahim al-Baihaqi hal 427
2. Al-Mahasin Wal Masawi’, karangan Ibrahim al-Baihaqi hal 427
3. Al-Mahasin Wal Masawi’, karangan Ibrahim al-Baihaqi hal 428
4. Al-Amtsal, karangan Abu Ubaid al-Qassim bin Salam hal 41. Dan Majma’ul Amtsal, karangan al-Maidani 1/808
5. Adabud Dunya Wad Din, karangan al-Mawardi hal 275
6. Adabud Dunya Wad Din, karangan al-Mawardi hal 275
7. Adabud Dunya Wad Din, karangan al-Mawardi hal 275
8. Diwan Tharafah bon al-’Abd hal 81. Dan lihat Bahjatul Majalis, karangan Ibnul Abdil Barr 1/83.
9. Lihat, Lisanul Arab 14/183
10. Bahjatul majalis 1/83
11. Bahjatul majalis 1/83
12. Dikeluarkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah
13. Al-Adabul Shagir Wal Adabul Kabir, karangan Ibnul Muqaffa’ hal: 139
14. Adabud Dunya Wa Din hal 275
15. Aqwal Ma’tsurah Wa Kalimat Jamilah, Dr Muhammad Luthfi ash-Shabbagh, hal 148 dari Athwaqudz Dzahab, karangan az-Zamakhsyari hal 89.
16. ‘Ainul Adabi Was Siyasah wa Zainul Hasabi war Riyasah, karya Abuk husain Ali bin Abdirrahman bin Hudzail hal 192
17. Mkasudnya, Syaikh beloau (Ibnul Qayyim-pent) Ibnu Taimiah
18. Badai’ul Fawaid, karangan Ibnul Qayyim 2/274-275
19. Bahjatul majalis 2/298
20. Siyar A’lam an-Nubala’ 4/259

(Sumber: Dinukil ulang oleh ummu aisyah rizast dari Majalah Akhwat Shalihah, vol 13/1432/2011, rubrik Tarbiyatunnisa’ hal 17-21)
24.04.2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s