“5 Wasiat Berharga Bagi Yang Baru Mengenal SALAFI” (bagian 1)

fw

karya Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi
Wasiat Pertama:
Pujilah Allah subhanahu wata’ala dan Bersyukurlah KepadaNYA Atas Nikmat Ini

Karena sesungguhnya ini adalah nikmat besar yang Allah subhanahu wata’ala karuniakan kepada siapa saja yang DIA kehendaki diantara para hambaNYA, maka bersikap-baiklah dalam mensyukuri dan menggunakan nikmat tersebut.

Ingatlah….

Betapa banyak orang yang terbenam dalam berbagai syubhat, dihempaskan olehnya ketimur dan kebarat, sementara dia tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan diri…
Betapa banyak orang yang terjerumus kedalam berbagai syahwat, tertawan olehnya, sementara dia tidak tahu kapan melepaskan diri…
Maka bersyukurlah wahai orang-orang yang bertaubat.

Dan ketahuilah bahwasannya nikmat ini berasal dari Allah subhanahu wata’ala semata. Tiada daya dan upaya bagimu dalam mendapatkan nikmat ini kecuali karna Allah Yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. DIAlah yang telah bersikap lembut kepadamu dan memberimu petunjuk. DIA tidak mewafatkanmu sedang engkau dalam keadaan tenggelam dalam berbagai syubhat da syahwat. Segal puji bagi-NYA di dunia dan akherat.

DIAlah Allah subhanahu wata’ala yang telah membimbingmu dan memberimu kemudahan untuk bertemu dengan orang yang membimbingmu kepada manhaj salafush-shalih. Betapa banyak nikmat-NYA yang telah DIA berikan kepadaku dan kepadamu.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.”
(QS. Ibrahim: 34)

Wahai saudaraku yang baru bertaubat….

Waspadalah dari sikap berbangga diri dan merasa hebat atau mengungki-ungkit kepada Allah subhanahu wata’ala tentangnya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“… Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan ni’mat-Nya atas kamu, maka telitilah..”
(QS An-Nisa’: 94)

Dan berhati-hatilah dari perbuatan mengolok-olok atau meremehkan orang lain dan yang sedang diuji dengan sesuatu yang Allah subhanahu wata’ala tidak timpakan kepadamu. Lebih dari itu, hendaknya engkau memuji Allah subhanahu wata’ala karena telah menyelamatkanmu dan tidak mengujimu dengan cobaan yang mereka alami. Dan jika engkau melihat orang yang sedang ditimpa cobaan, maka ucapkanlah:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً
“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari musibah yang menimpamu dan telah melebihkanku atas kebanyakan makhlukNYA.” (1)

Disamping itu sebaiknya engkau mengasihi dan menyayangi mereka. Berharaplah agar mereka mendapatkan nikmat seperti yang telah Allah subhanahu wata’ala anugerahkan kepadamu berupa kebaikan dan petunjuk.
Dan ketahuilah -semoga Allah subhanahu wata’ala memberimu taufik- bahwasanya engkau harus menempuh sebab-sebab yang bisa membantumu dalam memperbaiki taubatmu, dengan dasar sungguh-sungguh, giat, jujur, dan niat yang ikhlas.

Maka hal pertama yang harus engkau lakukan adalah:
wasiat ke-dua:
Menuntut Ilmu adalah pondasi untuk memperbaiki taubatmu

Menuntut Ilmu adalah pondasi untuk memperbaiki taubatmu, hal yang demikian karena 2 hal :

1. Biasanya syubhat-syubhat tersebut masih membekas pada hati dan pikiranmu. Karena itu jika engkau belum memperbaiki taubatmu dengan ilmu yang bermanfaat, maka engkau akan mendapati syubhat-syubhat tersebut ternyata masih mewarnai ucapanmu, perbuatanmu, keadaanmu, bahkan dakwahmu sekalipun. Sebagaimana hal ini terjadi pada sebagian orang yang langsung terjun ke medan dakwah, padahal ia baru aja bertaubat.
Mereka mengajak kepada dakwah salafiyyah, namun sayang dakwahnya tersebut masih diselimuti oleh syubhat-syubhat Ikhwaniyyah Tajmi’iyyah(2), Quthbiyyah Takfiriyyah(3) atau Sururiyyah Hizbiyyah(4).

Maka bentuknya Salafiyyah namun rasa dan aromanya tidaklah demikian. Sehingga, dakwah salafi mereka mengandung cacat-cacat berlubang karena pondasi dakwah mereka adalah syubhat-syubhat saat belum bertaubat, yang masih menyelimuti mereka dan belum diluruskan.

Sehingga (muncullah)…….
Salafi yang ini menyerukan keamiran dakwah…
Salafi yang itu mengabaikan sebagian pokok ajaran Salaf, dengan alasan dapat menyebabkan hati menjadi keras atau memutus tali persaudaraan…
Salafi yang ini menetapkan pemikiran sayyid Quthb…
Salafi yang itu mengajak kepada (partai) golongannya…
Salafi yang ini mengusung pemikiran aksi brutal…
Salafi yang itu mendirikan “Wadah Persatuan”…
Dan semuanya atas nama Salafi….!
Hanya kepada Allah-lah kita mengadu. Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’un..

2. Terkadang datang sebuah syubhat yang menerpamu, mengubah haluan dan jalanmu untuk bertaubat kepada manhaj Salaf, sehingga engkau menjadi kebingungan. Atau bahkan engkau mendakwahkan syubhat tersebut dengan anggapan bahwa hal itu adalah kebenaran padahal sejatinya adalah kesesatan.

Betapa banyak orang yang mengaku-ngaku berilmu dan mengatakan dirinya Salafi telah mempermainkan para pemuda yang baru bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala.

Hal ini terjadi karena mereka tidak menuntut ilmuyang bermanfaat dan tidak bertanya kepada ahli ilmu dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Oleh karena itu, wahai orang yang bertaubat -semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan taufik kepadamu-, engkau harus menuntut ilmu yang bermanfaat!
Karena hal inilah yang akan memperbaiki taubatmu dan meluruskan jalanmu. Maka dengan ilmu itu engkau dapat selamat dari syubhat-syubhat, ketergelinciran serta jaring-jaring dan jerat perangkap, dengan izin allah subhanahu wata’ala dan taufik-NYA.

Adapun dali-dalil yang menunjukkan tentang keutamaan ilmu dan ahlinya, maka sangatlah banyak dan masyhur, namun saya akan sebutkan beberapa diantaranyadalam rangka mengingatkan, firman Allah subhanahu wata’ala:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(QS Ali Imran: 18)

Juga Firman Allah subhanahu wata’ala:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambaNYA, hanyalah ‘Ulama”
(QS Fathir: 28)

Dan Firman-NYA:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan, beberapa derajat.”
(QS Al-Mujadilah: 11)

Demikian pula firman Allah subhanahu wata’ala ketiak menyebut nikmat atas Nabi-NYA shallallahu ‘alaihi wasallam dengan diturunkannya Al-Qur’an dan Al-Hikmahkepada beliau serta melindunginya dari penyesatan manusia:
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُ لَهَمَّتْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ أَنْ يُضِلُّوكَ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ ۖ وَمَا يَضُرُّونَكَ مِنْ شَيْءٍ ۚ وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ ۚ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا
“Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan diri mereka sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan al-Hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.”
(Qs An-Nisa: 113)

Jika engkau telah mengetahui -Wahai orang yang bertaubat- akan pentingnya ilmu dan keutamaannya serta bahayanya jika diabaikan, maka ketahuilah bahwa hal pertama yang harus engkau mulai dari ilmu-ilmu tersebut adalah:
wasiat ke-tiga
Mulailah dengan Mempelajari Pokok-pokok Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Ketahuilah -Semoga Allah subhanahu wata’ala memberimu taufik untuk mentaati-NYA-, sesungguhnya yang saya maksud dengan “pokok-pokok’ tersebut bukanlah sebatas kepada ketiga jenis Tauhid(5) saja. Memang hal ini adalah nomor satu. Namun hal kedua yang saya maksud ialah selain perkara tersebut dari pokok-pokok ajaran yang telah disepakati oleh Ahlus Sunnh wal Jama’ah dan diselisihi oleh Ahlul Bid’ah dan Ahlul Furqah.

Seperti al-wala’ wal bara’(6), ‘amar ma’ruf nahi munkar(7), sikap terhadap para sahabat; dengan memuliakan dan membela mereka, bagaimana sikap terhadap para penguasa (pemerintah), sikap terhadap pelaku maksiat dan dosa-dosa besar, sikap terhadap Ahlul Bid’ah; membicarakan mereka dan cara bermu’amalah dengan mereka, dsb-nya dari perkara-perkara pokok yang disepakati oleh Ahlus Sunnah wal jama’ah. Pokok-pokok ajaran ini mereka masukkan ke dalam kitab-kitab akidah mereka, dalam rangka menampakkan kebenaran dan sekaligus sebagai wujud penyelisihan mereka terhadap kelompok yang menyimpang, Ahlul Fitnah, Ahlul Ahwa’ dan Ahlul Furqah, sekalipun pada dasarnya hal-hal tersebut sifatnya aplikatif (‘amaliyyah), bukan keyakinan (‘aqidah).

Jika engkau betuk-betul telah menguasai pokok ajaran ini beserta permasalahannya, niscaya engkau -biidznillaah- akan terbentengi dari syubhat yang menghembuskan dunia Islam ke kanan dan ke kiri.

Ketika kebanyakan dari mereka yang bertaubat tersebut telah mengabaikan hal ini dan tidak mengawali taubatnya dengan mempelajari pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan manhajnya, maka mereka menjadi bingung dan kacau meski dengan subhat yang paling sepele. Kita memohon keselamatan kepada Allah subhanahu wata’ala.

Barangsiapa yang memperhatikan keadaan mereka, niscaya akan mendapatkan gambaran dan contoh yang sangat banyak tentang kebingungan tersebut.

Diantaranya, contoh yang pertama:

Sungguh engkau akan dapati seseorang yang telah bertaubat tersebut pada mulanya sangat bersemangat untuk menjauhi Ahlul Bid’ah dan Ahlul Furqah selama beberapa waktu. Namun ketika dia mendengar syubhat-syubhat dari seorang “salafi” samaran yang berucap (singkatnya):
“Sesungguhnya menjauhi Ahli Bid’ah, tidak bermajlis bersama mereka dan enggan bergaul dengan mereka adalah tidak benar… Perbuatan semacam ini akan menghilangkan kebaikan yang sangat banyak… Dan tidak ada seorangpun yang ma’shum (terjaga dari kesalahan) setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam… Bahkan sesungguhnya para sahabatpun juga pernah berbuat salah..”

Maka engkau akan mendapati dia menjadi berpenyakit hatinya. Karena dia telah menenggak syubhat tersebut lebih cepat daripada meminum air. Akhirnya dia kembali berbaur dengan Ahlul Bid’ah dan mengabaikan pokok-pokok ajaran Salaf, namun masih menamakan dirinya sebagai “Salafi”

Sesungguhnya kebingungan ini terjadi karena tidak adanya keseriusan dalam mempelajari al-kitab dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salaful-Ummah, serta mempelajari pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah Wal jama’ah. Seandainya dia mau mempelajarinya, tentu dia akan mengetahui bahwasanya syubhat-syubhat tadi adalah bathil dan menyelisihi sikap (tegas) Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap Ahlul Ahwa dan Ahlul Bid’ah, baik dimasa lalu maupun masa sekarang.

Seandainya dia mau mempelajari, sudah pasti dia akan mengetahui bahwasanya ucapan si penyamar tadi: ” Tidak ada seorangpun yang ma’shum setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan bahwasanya semua orang pasti pernah berbuat salah ” adalah sebuah kalimat yang benar, namun yang diinginkan (dibalik itu) adalah kebatilan. Yang demikian itu karena kesalahan (ijtihad) seorang Ahlussunnah dari kalangan sahabat maupun yang mengikuti mereka dengan baik, bukanlah mncul dari hawa nafsu mereka, atau karena meninggalkan atsar(8), ataupun karena menyelewengkan nash-nash(9), atau mengikuti perkara yang mustasyabih (samar) sebagaimana biasa dilakukan oleh Ahlul Bid’ah. Akan tetapi, hal tersebut bisa terjadi karena dia belum mengetahui dalilnya atau mungkin dia sudah tahu tapi menurutnya hadits tersebut tidak shahih atau hal-hal lain yang memang mendapat ‘udzur.

Kepada merekalah dan yang mengikuti mereka dengan baik, sabda Nabi shallallahu ‘alahi wasallam ini ditujukan:
إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ, فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ, فَلَهُ أَجْرَانِ. وَإِذَا حَكَمَ, فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ, فَلَهُ أَجْرٌ
“Jika seorang hakim (ulama’) hendak memutuskan (suatu perkara), lalu ia berijtihad, kemudian ia benar, maka ia mendapatkan dua pahala. Jika mau memutuskan perkara, lalu ia berijtihad, kemudian keliru, maka ia akan mendapatkan satu pahala”.
[HR. Al-Bukhoriy (7352), dan Muslim (1716)]

Berbeda halnya dengan Ahlul Bid’ah dan Ahlul Furqah, mereka memang tidak perduli terhadap atsar dan lebih mengedepankan akal-akal mereka daripada nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah, bahkan mereka mengkonsep ajaran tersendiri yang menyelisihi ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka inilah yang tidak bisa diberi udzur sebagaimana anggapan orang yang mengaku sebagai “Salafi” tadi, dan tidak ada yang menggolongkan mereka kedalam barisan Ahlus Sunnah wal Jama’ah kecuali orang yang masih bodoh, atau seorang Ahlul Bid’ah yang sombong.

Contoh yang kedua;

Sungguh engkau akan dapati orang yang baru bertaubat tersebut pada awalnya antusias dalam mengkritik alhi bid’ah, namun sayang idak dibarengi dengan prinsip dan ilmu (yang benar). Hal ini terus berlangsung selama beberapa saat. Hingga dia mendengar syubhat-syubhat dari seseorang yang mengaku Salafi:
“Sesungguhnya mengkritil orang bukanlah cara-cara Ahlus Sunnah wal Jama’ah!.. Itu justru akan mengeraskan hati(10)… Dahulu si fulan suka mengkritik jama’ah-jama’ah yang ada, kemudian dia justru terjengkal karena sebab itu!!!”;

Maka engkau mendapatinya berbalik kebelakang dan mengingkari pokok ajaran yang agung ini, yang dengannya agama ini menjadi tegak. Bahkan setelah itu dia justru mengajak manusia untuk meninggalkan pokok ajaran ini dengan alasan hal itu dapat mengeraskan hati.

Dan yang benar dalam perkara ini; bahwa mengkritik Ahlul Bid’ah adalah pokok ajaran yang agung, yang dengannya agama lurus ini dapat berdiri tegak. Layaknya pintu yang kokok dalam menjaga manhaj Ahlus Sunnah wal jama’ah dari berbagai penyimpangan. Disamping itu, mengkritik ahlul Bid’ah juga merupakan ibadah yang agung, sebuah pendekatan diri yang mulia kepada Allah subhanhu wata’ala (11) dan dapat menambah iaman seorang muslim, tentunya jika syarat-syarat terpenuhi, seperti ikhlas dan yang lainnya. Keadaannya sebagaimana keadaan ibadah yang lainnya, yang dapat menambah keimanan.

Jika terjadi kerusakan karenanya, maka itu bukan pada pokok ajarannya, akan tetapi pada orang yang mempraktekkannya tanpa dilandasi aturan (yang benar). Ketika syubhat itu mendapat tempat dihatinya, dia justru menyalahkan pokok ajaran tersebut dan bukannya menyalahkan dirinya sendiri karena kurang baik dalam menerapkannya.

Oleh sebab itu kita tidak pernah melihat pada diri para imam pemberi petunjuk dari kalangan sahabat, tabi’in maupun orang yang mengikuti mereka dengan baik kecuali kezuhudan, taqwa, tasa takut (kepada Allah) serta kelembutan hati. Padahal mereka sangat sering mengkritik dan membantah orang lain beserta berbagai kelompok (sesat) yang ada.

Demikian ini; ‘Abdullah ibnul Mubarak…, Ahmad bin Hanbal…, Yahya bin Ma’in…, Abu hatim ar-razo.., al-Bukhari…
Sejarah hidup mereka semuanya dipenuhi dengan sikap Zuhud, wara’, Khasyah, dan Taqwa.

Maka kerancuan dan kericuhan ini disebabnya adalah karena tidak adanya keikhlasan dan kejujuran dalam bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala, juga karena kurang perhatiannya oran yang baru bertaubat tersebut untuk mempelajari pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai permulaan taubatnya.

Oleh sebab itu -wahai saudaraku yang bertaubat- engkau harus waspada dari ketergelinciran yang berbahaya ini. Ketahuilah, bahwa tidak ada yang dapat menolongmu dari syubhat yang merajalela serta ketergelinciran yang membinasakan ini, kecuali jika Allah subhanahu wata’ala memberikan kepadamu taufik, dan engkau mulai dengan mempelajari pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Bersemangatlah dalam perkara ini, bersungguh-sungguh dan sertakan tekad yang kuat;
خُذُوا مَآءَاتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ
“Peganglah kuat-kuat apa yang Kami berikan kepadamu” (QS Al-Baqarah: 63)

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad sungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, niscaya Kami benar-benar akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-oang yang berbuat baik”
(QS al-Ankabut: 69)

Yakinlah terhadap firman Allah subhanahu wata’ala:
وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا. وَإِذًا لَآتَيْنَاهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْرًا عَظِيمًا. وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا.
“Dan sesungguhnya jikalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih mengokohkan (mereka), dan jika demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.”
(QS. An-Nisa’: 66—68)

Dan janganlah engkau lemah, patah semangat atau menyerah karena musibah yang menimpamu dijalan Allah subhanahu wata’ala!

Jangan engkau lupakan firman Allah subhanahu wata’ala;
“…mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpanya dijalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh) dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.”
(QS Ali Imran : 146)

bersambung, insya Allah….

catatan:

1. Diriwayatkan oleh Tirmidzi rahimahullah dalam kitab Jami’nya dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anha. Didalam sanadnya terdapat “abdullah bin ‘Umar al-’Umari rahimahullah dan dia dha’if. Akan tetapi hadits ini memiliki syawahid (penguat) yang mengangkat derajatnya menjadi hasan li ghairih.
Tambahan editor: Hendaknya do’a ini ia ucapkan secara sirr, tidak ia perdengarkan kepada orang orang yang tertimpa musibah tersebut sehingga tidak menimbulkan sakit hati. Kecuali jika itu berupa maksiat, maka tidak mengapa ia perdengarkan kepadanya sebagai bentuk teguran, selama tidak mengkhawatirkan dampak buruk darinya. Dan hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani. Shahihul Jami’ (6248), Syarh Hisnul Muslim; Majdi bin ‘Abdil Wahhab.
2. Paham Ikhwanul Muslimin yang menyerukan persatuan apapun perbedaannya, ed.
3. Paham Sayyid Quthb yang mudah mengkafirkan-kafirkan masyarakat muslim, ed.
4. Pengikut Muhammad Surur yang tinggal di negri kafir Inggris. Dahulunya seorang yang menampakkan Sunnah, lalu berbalik menikamnya dan mencaci-maki Saudi Arabia dan menjatuhkan para ulama Ahlussunnah semacam Ibnu Baz, al-Albani. Syaikh Muqbil dan lainnya telah membantahnya, ed.
5. Yaitu: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid asma wa shifat, ed.
6. Al-Wala artinya loyalitas, al-Bara’ artinya anti-loyalitas. yakni seseorang mencintai dan membenci karena Allah, ed.
7. Amar ma’ruf artinya memerintahkan kebaikan, nahi Munkar artinya melarang kemungkaran, ed.
8. Yakni membuang ucapan-ucapan maupun sikap para sahabat, tabi’in da setelah mereka dari imam-imam Salaf, ed.
9. Baik dari Al-Qur’an maupun al-Hadits, ed.
10. Ini termasuk keanehan mereka! Dimana kekerasan hati seharusnya disebabkan karena menyelisihi perintah-perintah Allah dan Rasul-NYA, bukan justru dengan mengerjakannya. Bagaimana mungkin bisa menjadi keras hari seseorang yang mengingkari berbagai kemungkaran dan kesesatan, diantaranya yaitu bid’ah-bid’ah?!
Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Fitnah itu ditampakkan pada hatiseperti tikar seutas demi seutas. Maka hati mana saja menyerapnya, niscaya tertitik padanya bercak hitam, dan hati mana saja yang mengingkarinya, maka akan tertitik warna putih. Jadilah hati terbagi 2: hati yang putih seperti batu licin, yang tidak akan bisa dibahayakan fitnah manapun selama ada langit dan bumi. Yang lainnya; Hati yang hitam kelam seperti cangkir yang terjungkir, tidak mengenal yang baik dan tidak mengingkari yang mungkar kecuali apa yang telah diserap oleh hawa nafsunya.”
(Diriwayatkan oleh Muslim rahimahullah (367))

Dikutip oleh Ummu Aisyah Rizast dari buku “5 Wasiat Berharga Bagi Yang Baru Mengenal SALAFI” karya Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad asy-Syihhi, penerjemah Nursalam djamaluddin, Muraja’ah Ust. Abu ‘Abdillah Muhammad Higa, penerbit Maktabah Al-Huda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s