Jadi Begini Rasanya

wpid-IMG_20120827_155232

Pagi ini pukul 03.00 pagi.

Seperti biasa, bangun dan menyiapkan menu makanan sahur untuk saya dan suami. Heiii, saya sudah menikah *big smile*!!!!!
ya, ini postingan “pribadi” saya selepas saya menikah.
Menikah dan memiliki orang yang tepat untuk berbagi.
Pernah membayangkan bangun dari tidur dengan sebuah kejutan setiap harinya? Itu yang saya rasakan setiap hari. Selalu ada saja kejutan darinya, ada saja tingkah lucu setiap kali saya membangunkannya -karena ini memang Ramadhan pertama kami, jadi banyak sekali hal-hal baru yang saya alami-. dan yang paling bisa membuat saya tertawa adalah mengetahui sebuah fakta, betapa susanya membangunkan suami saya untuk sahur (bukan sulit karena tidak mau puasa, tapi karena dia memang senang membuat jengkel istrinya).
Memiliki suami dengan selera makan yang agak susah dan cukup milih-milih dalam hal makanan, cukup membuat saya memutar otak setiap harinya. But i love it *senyum*.
Memasak sahur tidak pernah seindah hari itu. Ramadhan ke 20, dimana suami saya bangun dan membantu saya menyiapkan makanan. Senangnya bukan main.
Rasa senangnya luar biasa, karena memang biasanya dia tidak pernah bisa bangun kalau tidak dibangunkan.
Menjalani hari-hari dengan mengurus segala keperluannya dan menantinya pulang bekerja setiap sore, adalah hal baru yang snagat indah yang saya sangat bersyukur bisa melakukannya sepenuh hati untuk dirinya.

Dan ini adalah Ramadhan kesekian yang harus saya jalani jauh dari Ibu dan Ayah.
Jauh. Bahkan teramat jauh.
Jika beberapa tahun yang lalu saya tinggal dan menetap bersama Ayah, kali ini saya tidak bisa bersama bahkan hanya dengan salah satu dari mereka.
Terpisah jarak ribuan kilometer dari Ibu cukup membuat mata saya berair. Menangis, bahkan terkadang sampai membuat saya sedikit sulit bernafas.
Tapi dengan mengingat sebuah do’a dan beberapa penggal nasehat yang diucapkan oleh ibu beberapa saat sebelum saya benar-benar melangkahkan kaki saya untuk meninggalkan beliau dengan jarak yang begitu jauh, cukup memberi efek tenang bagi saya ketika air yang mengalir dari sudut mata sudah tidak bisa terbendung lagi.
Ibu, apa ibu tahu? karena aku percaya bahwa setiap do’a yang kau panjatkan untukku akan menguatkanku, aku bisa kembali tersenyum.

Tak peduli seberapa jauh jarak memisahkan kita.
Aku percaya, Bahwa doa ibu menguatkan. Selalu. Dengan efek luar biasa menenangkan.

Dan, jadi inilah rasanya.
Jauh dari mu ibu. Dan dengan segenap hati menjalankan tugasku dari Rabb kita untuk mengabdi pada suami dan menuruti nasehatmu untuk selalu melakukan yang terbaik untuknya. Suamiku. Suami putrimu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s